Cari Blog Ini

Minggu, 23 Juli 2017

Sejarah Berdirinya Kerajaan Demak


            Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.  Pada masa sebelumnya daerah Demak bernama Bintoro yang merupakan vassal atau bawahan dari Kerajaan Majapahit.  Pendirian Kerajaan Demak mendapat bantuan dari para bupati daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut agama Islam.
            Kerajaan Demak ini berdiri setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1478, dengan di tandai candra sangkala: sirna ilang kertaning bumi yang berarti tahun 1400 Jawa.  Kerajaan Majapahit jatuh dikarenakan dua alas an yaitu karena kelemahan ekonomi serta keruntuhan dalam negeri sendiri. Redupnya Majapahit yang semula merupakan kerajaan besar itu disindir oleh para pujangga dengan kata-kata: Macan galak semune curiga kethul.[1]
            Kerajaan Demak di dirikan oleh Raden Patah yang kemudian bergelar Sultan Syah Alam Akbar I.  Berdirinya Kerajaan Demak ditandai dengan sengkalan: geni mati siniraman janma atau tahun 1403 Saka atau 1478 M, setelah mundurnya Prabu Brawijaya V dari tahta Kraton Majapahit dimana Raden Patah merupakan putra Prabu Brawijaya V dari istri selirnya yang seorang Putri Cina seperti yang dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi.[2]  Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Demak berkembang dengan pesat karena memiliki daerah pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan sehingga terkenal menjadi kerajaan agraris-maritim.  Selain itu Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan dan sebagai pusat penyebaran agam Islam.  Oleh karena itu, pada masa pemerintahannya dibangun masjid Demak yang proses pembangunan masjid itu dibantu oleh para wali atau sunan.
            Pada tahun 1513 Raden Patah memerintahkan Pati Unus memimpin pasukan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka.  Serangan itu belum berhasil, karena pasukan Portugis jauh lebih kuat dan persenjataannya lengkap.  Atas usahanya itu Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor.
            Ketika Raden Patah wafat pada tahun 1518 M, Pati Unus menggantikannya sehingga bergelar Sultan Syah Alam Akbar II.  Ia memerintah Demak dari tahun 1518-1521 M.  Masa pemerintahan Pati Unus tidak begitu lama hanya tiga tahun karena ia meninggal dalam usia yang masih muda.  Walaupun usia pemerintahannya tidak begitu lama, namun namanya cukup dikenal sebagai panglima perang yang memimpin pasukan Demak menyerang Portugis di Malaka.
            Setelah Pati Unus meninggal tahta Kerajaan Demak dipegang oleh saudaranya yang bernama Sultan Trenggana karena Pati Unus tidak meninggalkan seorang putra mahkota.  Sultan Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521 M.  Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Demak mencapai masa kejayaan.
            Dalam pemerintahannya Sultan Trenggana berusaha memperluas daerah kekuasaannya, ambisius dan melancarkan aksi militer mengalahkan semua pelabuhan independen di bagian utara jawa dan menghancurkan hampir semua kerajaan Hindu di Jawa.  Tindakan pertama Sultan Trenggana adalah mencegah orang Portugis membangun benteng di Jawa Barat untuk memenuhi perjanjian yang telah disepakati dengan Raja Pajajaran, Suliwangi.  Untuk memenuhi tujuannya tersebut dia mengijinkan Hasanuddin, anak Sunan Gunungjati untuk membawa 2000 orang dari Cirebon untuk menyerang Banten, sehingga pada tahun 1526 M kota tersebut bisa dikuasai.[3]
            Selain itu, Sultan Trenggana juga tidak kalah giatnya dari Pati Unus dan ayahnya untuk memperkokoh singgasana Demak dan menegakkan tiang-tiang agama Islam.  Seorang ulama terkemuka dari Pase bernama Fatahillah yang sempat tinggal glanggang colong payu dari kepungan orang-orang Portugis, diterima oleh Sultan Trenggana bahkan dikawinkan dengan adik Sang Raja sendiri dan ternyata ia adalah orang yang dapat melaksanakan maksud-maksud Sultan Trenggana.[4]
            Ekspedisi terakhir Sultan Trenggana terjadi pada tahun 1546-1547 M.  Itu adalah usaha kedua untuk merebut kota Panarukan yang masih dikuasai oleh gubernur balambangan, karena pada usaha yang pertama dimana dia terpaksa berhenti karena perlawanan sengit dari pasukan Balambangan, kerajaan Hindu terakhir yang tersisa di Jawa.  Selama aksi militer pada usaha yang kedua didukung oleh tentara bayaran Portugis itu, Fernao Mendes Pinto (1510-1583) menulis sebuah buku memoir yang terkenal, Peregrinacao.[5]  Tampaknya Panarukan adalah kelemahan Sultan Trenggana karena semua serangannya telah gagal dan sementara pengepungan terus berlangsung sehingga membuat temperamennya memburuk.  Suatu hari dia kehilangan kendali dan menghina salah satu punggawanya di depan umum yang membuat punggawa tersebut sakit hati, kemudian menikam Sultan Trenggana hingga tewas.
            Setelah wafatnya Sultan Trenggana terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Demak, antara anak dan kakek Trenggana.  Kakek Trenggana terbunuh di tepi sungai maka kemudian ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda ing Lepen.  Tetapi anak Sultan Trenggana bernama Pangeran Prawata dibunuh oleh anak Sekar Seda ing Lepen yang bernama Arya Panangsang.  Selanjutnya Arya Panangsang dibunuh oleh Joko Tingkir (menantu Sultan Trenggana), dan kemudian Joko Tingkir naik tahta dengan gelar Sultan Hadiwijaya yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dari Demak ke Pajang (1568).  Dengan tindakan ini maka habislah riwayat kerajaan Demak.
  



                                       
DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1981. Babad Demak. Jakarta: Departemen
       Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Babad Majapahit dan Para Wali.
       Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900. Jakarta: PT.
       Gramedia Pustaka Utama.
Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram.
       Yogyakarta: Kanisius.
Muljana, Prof. Dr. Slamet. 2009. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya
       Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: PT. LKis.
Munoz, Paul Michel. 2009. Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan
       Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi.
Purwadi. 2005. Babad Demak. Yogyakarta: Tunas Harapan.
Purwadi. 2007. Sistem Pemerintahan Kerajaan Jawa Klasik. Sumatra Utara: Pujakesuma.
Soeroto. 1975. Demak dan Pajang (± 1500-±1600). Jakarta: Sanggabuwono.
Suyono, Capt. R. P. 2004. Peperangan Kerajaan di Nusantara. Jakarta: PT. Grasindo.




[1] Dr. Purwadi, M. Hum.(2007). Sistem Pemerintahan Kerajaan Jawa Klasik. Sumatra Utara; Pujakesuma.
       p. 234.
[2] Dr. Purwadi, M. Hum. (2005). Babad Demak (Sejarah Perkembangan Islam Di Tanah Jawa).
       Yogyakarta; Tunas Harapan. p. 34.
[3] Paul Michel Munoz. (2009). Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia Indonesia dan Semenanjung
       Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi. p. 413.
[4] Dr. Purwadi, M. Hum. (2005). Babad Demak (Sejarah Perkembangan Islam Di Tanah Jawa).
        Yogyakarta; Tunas Harapan. p. 45.
[5] Ibid., p. 415.

PKI


Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia yang berideologi komunis. Dalam sejarahnya, PKI pernah berusaha melakukan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926, mendalangi pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948 dan dicap oleh rezim Orde Baru ikut mendalangi insiden G30S pada tahun 1965.Keanggotaan PKI pada waktu pemberontakan meletus sebenarnya sangat kecil(1) sehingga tuduhan dalang PKI dalam pemberontakan tahun 1965 tidak pernah terbukti secara tuntas, dan masih dipertanyakan seberapa jauh kebenaran tuduhan bahwa pemberontakan itu didalangi PKI. Sumber luar memberikan fakta lain bahwa PKI tahun 1965 tidak terlibat, melainkan didalangi oleh Soeharto (dan CIA). Hal ini masih diperdebatkan oleh golongan liberal, mantan anggota PKI dan beberapa orang yang lolos dari pembantaian anti PKI. Setidaknya lebih dari lima teori berusaha mengungkap kejadian tersebut.Dalam Kongres PKI di kotagede(desember1924)tercatat 1237 anggota PKI dan 33.748 simpatisan (sarekat Rakyat)(2). Namun teori-teori yang terkadang saling berlawanan menjadikanya diskusi besar sampai hari ini.
              Gerakan Awal PKI
Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda [1]
Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV. Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia.

1 .Moedjanto,G.(1978).Pergolakan Tahun 1925-1927:Pemerontakan PKI Atau Pemberontakan Rakyat.Yogyakarta:IKIP Sanata Dharma.Page:20.
2. Moedjanto,G.(1978).Pergolakan Tahun 1925-1927:Pemerontakan PKI Atau Pemberontakan Rakyat.Yogyakarta:IKIP Sanata Dharma.Page:20

Pembentukan Partai Komunis
PKI adalah suatu partai yang kuat dengan 3juta anggota(3)Pada awalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Keadaan yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya, terutama di Semarang dan Yogyakarta membuat Sarekat Islam melaksanakan disiplin partai. Yakni melarang anggotanya mendapat gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV. Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaoen diangkat sebagai ketua partai.
PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920.Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Setelah kemerdekaan: bangkit kembali
Sejak tahun 1927 secara simulasi diusahakan untuk memasukkan orang-orang komunis Indonesia maupun simpatisanya kedalam negeri untuk membangun kembali PKI(4).Pada 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 pihak Republik Indonesia dan pendudukan Belanda melakukan perundingan yang dikenal sebagai Perundingan Renville. Hasil kesepakatan perundingan Renville dianggap menguntungkan posisi Belanda. Sebaliknya,RI menjadi pihak yang dirugikan dengan semakin sempit wilayah yang dimiliki.Oleh karena itu, kabinet Amir Syarifuddin diaggap merugikan bangsa, kabinet tersebut dijatuhkan pada 23 Januari 1948. Ia terpaksa menyerahkan mandatnya kepada presiden dan digantikan kabinet Hatta.
Selanjutnya Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948. Kelompok politik ini berusaha menempatkan diri sebagai oposisi terhadap pemerintahan dibawah kabinet Hatta. FDR bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) merencanakan suatu perebutan kekuasaan.
Beberapa aksi yang dijalankan kelompok ini diantaranya dengan melancarkan propaganda antipemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, pemogokan, menculik dan membunuh lawan-lawan politik, serta menggerakkan kerusuhan dibeberapa tempat.
Pada 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada 1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Aidit dan kelompok di sekitarnya, termasuk pemimpin-pemimpin muda seperti Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman, menguasai pimpinan partai pada 1951. Pada saat itu, tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 30 tahun. Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165 000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959 [4]
Pada Pemilu 1955, PKI menempati tempat keempat dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Konstituante.
Perlawanan terhadap kontrol Belanda atas Papua bagian barat merupakan masalah yang seringkali diangkat oleh PKI selama tahun 1950-an.
Pada Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat. Pada bulan yang sama PKI memperoleh banyak kemajuan dalam pemilihan-pemilihan di kota-kota. Pada September 1957, Masjumi secara terbuka menuntut supaya PKI dilarang.
Pada 3 Desember 1957, serikat-serikat buruh yang pada umumnya berada di bawah pengaruh PKI, mulai menguasai perusahaan-perusahaan milik Belanda. Penguasaan ini merintis nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh asing. Perjuangan melawan para kapitalis asing memberikan PKI kesempatan untuk menampilkan diri sebagai sebuah partai nasional.
Pada Februari 1958 terjadi sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pro Amerika Serikat di kalangan militer dan politik sayap kanan. Para pemberontak, yang berbasis di Sumatera dan Sulawesi, mengumumkan pada 15 Februari 1958 telah terbentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemerintahan yang disebut revolusioner ini segera menangkapi ribuan kader PKI di wilayah-wilayah yang berada di bawah kontrol mereka. PKI mendukung upaya-upaya Soekarno untuk memadamkan pemberontakan ini, termasuk pemberlakuan Undang-Undang Darurat. Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil dipadamkan.
Pada 1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal dan Presiden Soekarno sendiri menyampaikan sambutannya. Pada 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom yang merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. PKI membalasnya dengan menanggapi konsep Nasakom secara positif, dan melihatnya sebagai sebuah front bersatu yang multi-kelas.
Meskipun PKI mendukung Soekarno, ia tidak kehilangan otonomi politiknya. Pada Maret 1960, PKI mengecam penanganan anggaran yang tidak demokratis oleh Soekarno. Pada 8 Juli 1960, Harian Rakjat memuat sebuah artikel yang kritis terhadap pemerintah. Para pemimpin PKI ditangkap oleh militer, namun kemudian dibebaskan kembali atas perintah Soekarno.
Dengan berkembangnya dukungan dan keanggotaan yang mencapai 3 juta orang pada 1965, PKI menjadi partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. Partai itu mempunyai basis yang kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan Himpunan Sardjana Indonesia (HSI). Menurut perkiraan seluruh anggota partai dan organisasi-organisasi yang berada di bawah payungnya mungkin mencapai seperlima dari seluruh rakyat Indonesia.
Pada Maret 1962, PKI bergabung dengan pemerintah. Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat. Pada bulan April 1962, PKI menyelenggarakan kongres partainya. Pada 1963, pemerintah Malaysia, Indonesia dan Filipina terlibat dalam pembahasan tentang pertikaian wilayah dan kemungkinan tentang pembentukan sebuah Konfederasi Maphilindo, sebuah gagasan yang dikemukakan oleh presiden Filipina, Diosdado Macapagal. PKI menolak gagasan pembentukan Maphilindo dan federasi Malaysia. Para anggota PKI yang militan menyeberang masuk ke Malaysia dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran dengan pasukan-pasukan Inggris dan Australia. Sebagian kelompok berhasil mencapai Malaysia lalu bergabung dalam perjuangan di sana. Namun demikian kebanyakan dari mereka ditangkap begitu tiba. Kebanyakan dari satuan-satuan tempur PKI aktif di wilayah perbatasan di Kalimantan.
Pada Januari 1964, PKI mulai menyita hak milik perusahaan-perusahaan Inggris di Indonesia.
Salah satu hal yang sangat aneh yang dilakukan PKI adalah dengan diusulkannya Angkatan ke-5 yang terdiri dari buruh dan petani, kemungkinan besar PKI ingin mempunyai semacam militer partai seperti Partai Komunis Cina dan Nazi dengan SS nya. Hal inilah yang membuat TNI AD merasa khawatir takut adanya penyelewengan senjata yang dilakukan PKI dengan "tentaranya".
Pada era akhir kekuasaan Soekarno, munculah suatu insiden pembunuhan jenderal-jenderal TNI yang disebut insiden G30S. Dalam era ketidak jelasan dan kekacauan ini membuat PKI dan Soekarno dalam masalah besar yaitu menghadapi krisis nasional. Dengan alasan 'keterlibatan PKI dalam G30S', partai ini dilarang oleh Pangkopkamtib Soeharto pada tanggal 12 Maret 1966, setelah mendapat Surat Perintah Sebelas Maret dari Presiden Soekarno. Yang kemudian diklaim oleh Soeharto sebagai tonggak utama kekuatan politiknya.
Gerakan 30 September sendiri sangat membingungkan, karena Soekarno sendiri dalam pidatonya mengatakan bahwa Gestok (Sebutan Soekarno untuk G 30 S) terjadi diantaranya karena keblingeran pemimpin-pemimpin PKI.
Setelah itu bermula sebuah sejarah hitam bangsa Indonesia di mana ribuan orang tak bersalah -- terutama di pulau Jawa dan Bali -- dibantai secara sia-sia karena dituduh ikut komunis.
Hal ini disebabkan karena rakyat Indonesia sudah merasa sangat menderita ketika PKI dianakemaskan, banyak sekali kasus-kasus pembunuhan rakyat Indonesia non PKI dilakukan oleh orang PKI tanpa ada kejelasan hukum
Menurut beberapa sumber antara 500.000 jiwa sampai 2 juta jiwa tewas dibunuh. Ribuan lainnya mendekam di penjara atau dibuang ke pulau Buru.
Sebuah upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi yang diprakarsai oleh (mantan) presiden Gus Dur, ketika ia masih menjabat sebagai presiden diprotes beberapa partai, terutama yang berlatar belakang agama di Indonesia. Usul rekonsiliasi oleh Gus Dur telah membuka kesempatan bagi orang-orang yang masih percaya pada ideologi berhaluan kiri untuk kembali aktif dalam politik Indonesia, yaitu memiliki hak untuk memilih. Sesuatu hal yang tak didapatkan pada era Soeharto.Pada Pemilu 1955, PKI menempati tempat keempat dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Konstituante.
Perlawanan terhadap kontrol Belanda atas Papua bagian barat merupakan masalah yang seringkali diangkat oleh PKI selama tahun 1950-an.
Pada Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat. Pada bulan yang sama PKI memperoleh banyak kemajuan dalam pemilihan-pemilihan di kota-kota. Pada September 1957, Masjumi secara terbuka menuntut supaya PKI dilarang
Pada 3 Desember 1957, serikat-serikat buruh yang pada umumnya berada di bawah pengaruh PKI, mulai menguasai perusahaan-perusahaan milik Belanda. Penguasaan ini merintis nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh asing. Perjuangan melawan para kapitalis asing memberikan PKI kesempatan untuk menampilkan diri sebagai sebuah partai nasional.

3. Anwar,yozar.(1982).Protes kaum muda ! ;Kisah Bubarnya PKI , Jatuhnya Soekarno : Tenggelamnya KAMI.Jakarta : PT variasi Jaya/Kartini Group.Page:37.
4 . Soedjono,Imam.(2006).Yang Berlawan :Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI.Pengantar:George Junus Aditjondro.Yogyakarta:Resist Book.Page:43.


Daftar Pustaka


Anwar,yozar.(1982).Protes kaum muda ! ;Kisah Bubarnya PKI , Jatuhnya Soekarno : Tenggelamnya KAMI.Jakarta : PT variasi Jaya/Kartini Group.
Said,Tribuana&D.S.Moeljanto.(1983).Perlawanan Pers Indonesia (BPS) Terhadap Gerakan PKI.Jakarta:Sinar Harapan.
Soedjono,Imam.(2006).Yang Berlawan :Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI.Pengantar:George Junus Aditjondro.Yogyakarta:Resist Book.
Stanley.(1995).Bayang-Bayang PKI.Jakarta:Institut Studi Arus Informasi.
Moedjanto,G.(1978).Pergolakan Tahun 1925-1927:Pemerontakan PKI Atau Pemberontakan Rakyat.Yogyakarta:IKIP Sanata Dharma.
Lukman,M.H.(1963).Adjakan PKI Kepada Kaum Pengusaha Nasional.Djakarta:”pembaharuan”.
Soerojo,Soegiarso.(1988).Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai(G30S/PKI dan Peran Bung Karno.Jakarta:Sri Murni.
Atmowiloto,Arswendo.(1994).Penghianatan G30S/PKI.Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.
Sudisman(2001).Kritik Otokritik Seorang Politbiro CC PKI.Jakarta Teplok Press.
Lubis,Ibrahim.(1976).Islam Membendung Arus Komunisme.Jakarta:Telaga Bening



Kamis, 20 Juli 2017

Bung Karnoku Satria Pancasilaku


Indonesia merupakan negeri dengan sejarah peradaban yang panjang. Mulai dari masa pra aksara, kerajaan, penjajahan, masa proklamasi kemerdekaan, hingga masa demokrasi sekarang ini. Penjajahan selama berabad – abad telah menorehkan sebersit kenangan bagi bangsa ini. Tentang kesengsaraan rakyat hingga kegagahan pejuang bangsa yang mempertaruhkan jiwa raganya demi Negara. Dari sekian ribu pahlawan, ada satu tokoh yang berhasil menarik hati penulis dengan jiwa kesatrianya. Beliau adalah Bung Karno. Sosok dengan keteguhan diri dan hati baja yang kharismanya menyilaukan mata. Ayah dari Megawati Soekarno Putri ini telah mendapat ribuan nilai plus dari sebagian kecil masyarakat Indonesia yang masih mau menoleh kebelakang, untuk bercermin dan belajar dari masa lalu.
Indonesia tahun 1938 – 1945. Bung Karno mendengar, melihat, dan merasakan anak negeri yang terpuruk dan terkoyak penjajahan. Bung Karno prihatin, bahkan beliau menangis. Untuk membebaskan anak negeri dari penjajah, beliau mengangkat tangan dan membidikan kata – kata tajam guna membangunkan dan menjelaskan sesuatu yang gelap menjadi terang. Sebagai tuan rumah, nasib kita tidak lebih seperti budak, tanah air kita adalah warisan nenek moyang yang harus kita bela dan kita jaga. Jangan  biarkan kaum penjajah seenaknya menikmati keringat kita.
Teriakan Bung Karno tidak tinggal gaungnya saja, perbagai upaya ditempuh untuk mewujudkan cita – citanya. Berbagai kaum muda dari seluruh pelosok nusantara dirangkul, diikat dalam kesatuan tekat, persaudaraan, dan cita – cita yang sama. Dari berbagai upaya tersebut, setelah lolos dari aneka ragam rintangan puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945, pencetusan hebat dan kebebasan di proklamasikan. Saat itu lahir setitik kejelasan akan masa depan bangsa Indonesia, melalui kemerdekaan yang akhirnya dapat di rengkuh.



PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaan Indonesia. Hal – hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain – lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dengan tempo sesingkat – singkat nya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nanma bangsa Indonesia
Soekarno – Hatta

Bersama Bung Hatta, Sayuti Melik, dan ratusan putra terbaik negeri ini, Bung Karno berhasil menjawab penderitaan rakyat. Diteriakannya proklamasi di radio dan di kibarkannya pusaka sang merah putih.
Agar negeri tercinta tidak mudah goyah maka, pancasila ditancapkan dalam relung hati bangsa khususnya para generasi muda agar senantiasa melestarikan perjuangan. Supaya tunas bangsa  tidak melalaikan tugas untuk ikut serta membangun Indonesia. Dengan demikian, tetesan darah dan cucuran keringat para pejuang bangsa yang ikhlas menempuh kematian untuk menyejahterakan rakyat tidak sia-sia.
Tulisan sederhana ini dipaparkan bermaksud mengajak generasi muda supaya mengerti dan paham sosok Bung Karno. Beliau adalah tokoh yang memegang teguh garuda pancasila sebagai senjata untuk mempertahankan semangat kemerdekaan dari belenggu penjajahan. Memupuk kembali jiwa patriotisme dan mengamalkan pancasila yang kini telah terabaikan,  tergilas oleh sang waktu.

Bung Karno lahir di Blitar, 6 Juni 1901. Semasa kecil, beliau hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Masa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Lulus HBS tahun 1920, beliau  pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) dan  berhasil meraih gelar "Ir" pada  tanggal 25 Mei 1926.
Putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai ini merupakan sosok yang cerdas, pemberani dan pantang menyerah. Kegigihannya dalam mempertahankan negerinya dari tangan penjajah merupakan prestasi yang luar biasa dan patut untuk dijadikan panutan. Tidak hanya sampai di situ, pengetahuannya yang luas membuat beliau menerapkan filsafat yang pada saat ini hampir terlupakan. Yaitu sepuluh batang lidi lebih kuat dari pada satu batang lidi. Saat beliau melihat Indonesia yang begitu terpuruk, batinnya menjerit. Prihatin atas apa yang terjadi pada bangsa tercinta. Dengan jiwa nasionalisme yang membara, Bung Karno menggugah semangat pemuda Indonesia agar bangkit dan memperjuangkan tanah air nya. Rasa sebangsa, setanah air, senasib dan seperjuangan telah menghapus pemikiran sempit adanya perbedaan agama, ras dan golongan. Justru hal tersebut dijadikan suatu titik untuk membangun persatuan.
Pada 4 Juli 1927, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) dengan tujuan Indonesia Merdeka. Yang mengakibatkan Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian beliau disidang. Dalam pembelaannya, beliau menelanjangi kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaan tersebut membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Dari berbagai perjuangan yang dialami, puncaknya pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar Negara yang disebut Pancasila. Beliau merumuskan pancasila sebagai ideology Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berupaya mempersatukan nusantara, dan  berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia-Afrika dan Amerika Latin. Yang kemudian terlaksana tahun 1955 di Bandung dengan konferensi Asia Afrika yang kemudian berkembang menjadi gerakan non blok.
Gerakan Non-Blok (GNB) adalah suatu organisasi internasional yang terdiri dari 100 negara lebih yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun. Tujuan dari organisasi ini, seperti yang tercantum dalam Deklarasi Havana tahun 1979, adalah untuk menjamin kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok" dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme, apartheid, zionisme, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi, interferensi atau hegemoni dan menentang segala bentuk blok politik.
Garis politik internasional Bung Karno yang anti-imperialis yang didengung-dengungkan sampai tahun 1965 ternyata benar, bahkan telah menjadi sikap dari rakyat dan negara di dunia. Lelaki yang dijuluki putera sang fajar itu, sampai akhir hayatnya mendambakan solidaritas antara rakyat Asia-Afrika dan Amerika Latin dalam perjuangan bersama melawan neo-kolonialisme dan imperialisme.  Jika beliau masih hidup dan melihat buah pikirannya menjadi kenyataan pastilah beliau akan meras senang. Meskiun begitu dari alam yang bebeda beliau akan  berseri-seri karena melihat perkembangan situasi dunia yang sudah mengalami banyak perubahan.
            Bung Karno merupakan sosok pemimpin bangsa yang mencintai bangsa dengan sepenuh hati. Dan figure yang berani membawa negerinya berdiri di atas kaki sendiri. Semangatnya untuk membangun kembali bangsa ini tidak pernah padam walaupun sudah berkali-kali dibuang dan diasingkan. Pemimpin yang mampu mendorong dan menggerakkan rakyat untuk memanfaatkan potensi dan kapabilitas guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Sosok pemimpin yang tidak banyak keluh kesah. Kepemimpinan yang memiliki daya juang dan motivasi tinggi, sehingga mampu memotivasi dan menginspirasi bangsanya. Karakter seperti inilah yang sangat dibutuhkan Bangsa Indonesia untuk mencapai puncak kejayaan. Sayangnya, kreteria tersebut sangat jarang ditemukan di era global ini. Dilihat dari pola kepemimpinan sekarang ini, perbandingannya adalah 1:1000. Mengingat telah lunturnya arti kemerdekaan sesungguhnya dalam diri penerus bangsa. Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah tidak memiliki kharisma di mata masyarakat Indonesia.
“ Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku goncang dunia.” Gelegar Bung Karno. Itulah kata Bapak proklamasi kita yang dideklamasikan seraya mengangkat tongkat. Dari seribu manusia yang mendongakkan kepala, tidak berhasil merubah kekuatan yang sempit melebar ruah hingga sampai terdengar gaung negeri sebelah.
Mengertikah kita pemuda seperti apa yang beliau maksud? Tentu saja yang di maksud bukan pemuda yang memiliki kekuatan super yang dapat menjungkir balikan seisi kota seperti spiderman, superman dan kawan – kawannya. Melainkan sepuluh pemuda yang memiliki jiwa pancasila.
Dimana dalam badan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan prinsip. Yakin dan teguh pada diri sendiri dan Tuhan-nya. Sila yang ke dua,  Kemanusiaan Yang Adil dan beradab bermakna  adanya kesamaan derajat pada setiap manusia. Maka, jadilah manusia yang pandai sehingga dapat membedakan antara baik dan buruk. Yang ditekankan dalam sila ini adalah kesempurnaan pemikiran. Adanya keseimbangan antara nurani dan akal. Bila kesempurnaan pemikiran ini telah kita miliki, kita bisa menjdi manusia yang berperilaku adil dan beradab.
Yang ketiga, Persatuan Indonesia. Mengapa pada sila ke tiga ini di tulis persatuan Indonesia? Bukannya kesatuan dunia atau sejenisnya? Karena kita bangsa Indonesia memiliki begitu banyak perbedaan. Mulai dari agama, budaya, bahasa daerah, ras dan golongan. Maka dari itu kita harus bersama-sama menyatukan perbedaan menjadi satu keutuhan, satu tujuan  yaitu kemerdekaan yang kekal. Seperti filsafat, sepuluh batang lidi lebih kuat dari pada satu batang lidi. Yang juga terdapat pada semboyan bangsa, Bhineka tunggal ika. Yang berarti berbeda – beda tetapi tetap satu jua. Kita harus mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, ras, maupun golongan. Sehingga bukan tidak mungkin suatu saat , bila hal tersebut telah tercapai  kita dapat mempersatukan seluruh Negara dan membangun persatuan dunia.
Ke empat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Maksudnya adalah jadilah manusia yang bisa memimpin diri sendiri, bijaksana dalam bertindak dan memutuskan. Dasarnya adalah baik dan buruk, salah dan benar. Sehingga terbentuklah manusia pemimpin, dimana ia dapat menampung segala bentuk aspirasi bersama untuk kebersamaan.
Dan sila yang terakhir adalah Keadilan social bagi seluruh Rakyat Indonesia.  Sila kelima merupakan pokok – pokok pemikiran dari sila pertama hingga sila ke empat. Yaitu menciptakan manusia yang yang rela, adil, dan luhur demi kebaikan bersama.Yang terinspirasi dari “Rahmatan lil alamin"
Sehingga terbentuklah manusia yang berjiwa pancasilais.
Kelima sila itu telah melekat kuat dalam jiwa pemuda Indonesia,  akan membentuk sosok satria pancasila. Dampak terdasyat adalah akan terjadi revolusi kepemimpinan, hingga melahirkan Indonesia yang baru. Yang tingkat kesejahte-raannya melambung tinggi. Sehingga tidak ada lagi KKN dan pelonjakan harga kebutuhan pokok yang membuat rakyat kecil tercekik. Ini lah sosok Bung Karno yang ingin menanamkan arti Pancasila dalam jiwa muda penerus bangsa. Namun sayangnya, kaula muda tak lagi mau melirik bentuk dan karakter Bung Karno yang dapat diteladani ataupun berusaha menggali pengetahuan tentang kepemimpinan masa depan yang bersih untuk membangun kembali Indonesia. Sehingga Pancasila yang mengandung nilai – nilai moral tinggi pun tak lagi di pedulikan.
 Bung Karno merupakan tokoh proklamator kemerdekaan yang memiliki pola kepemimpinan tegas, jelas dan berkarakter. Yang menyatukan perkataan dengan perbuatan. Kepastian ini bisa berupa kepastian hukum dan keadilan, ataupun kepastian akses mendapat pendidikan dan penghidupan yang layak. Banyak pemimpin kita sekarang yang lalai akan janji – janji yang pernah di ucapkan saat kampanye setelah menjadi bupati, gubernur atau pun presiden. Sehingga apa yang mereka kerjakan kemudian hanya dapat membuat rakyat kecil menangis dan menambah beban penderitaannya.
Kepemimpinan yang dicontohkan oleh Bung Karno bukanlah kepemimpinan yang berorientasi pada diri sendiri. Melainkan kepemimpnan yang memiliki sensitivitas kepedulian yang tinggi terhadap kepentingan nasional dan rakyat. Sehingga kebijakan politik atau ekonomi dari kepemimpinan haruslah mengutamakan kepentingan nasional dan masyarakatnya. Tidak hanya mementingkan tebal kantong sendiri yang pada akhirnya akan mendorong Indonesia kedalam jurang kehancuran, bila tidak ada perubahan mendasar pada diri pemerintah dan para penerusnya.
Andaikan sosok Bung Karno dapat dijadikan contoh dan panutan untuk membangun negeri, mungkin Indonesia tidak akan mengalami keterpurukan untuk yang kedua kalinya. Hanya saja perbedaannya, peyebab keterpurukan Negara ini di masa lalu adalah penjajahan tidak berperi kemanusiaan selama tiga setengah abad. Tetapi saat ini, para pemimpin  tidak mengemban amanah, karena lunturnya Pancasila dalam jiwa mereka.
Oleh karena itu, kita sebagai rakyat Indonesia wajib memahami dan mengamalkan makna sebenarnya dari Pancasila. Dalam titahnya mempunyai pengertian singkat, yaitu  keyakinan untuk berketuhanan Yang Maha Esa dengan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Semua itu untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan dengan kerakyatan yang dipimpin dengan hikmat penuh kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Guna memajukan dan menciptakan singgasana keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Marilah kita renungkan perjuangn para tokoh nasional yang dengan gigihnya mempertahankan Indonesia. Pola kepemimpinan yang patut dijadikan contoh  para tunas bangsa supaya menjadi pemimpin yang amanah dan dapat menghargai jasa para pahlawannya. Jati diri bangsa sangat bergantung sejauh mana pola kepemimpinan memiliki kepercayaan diri dan membawa bangsanya dalam kemandirian. Generasi penerus bangsa, para pemuda pemudi Indonesia berfkirlah!! Hamemayu hayuning bawono. Jadikan sesuatu yang indah menjadi lebih indah. Menjadikan keadaan yang baik menjadi lebh baik. Dan meluruskan yang salah dan keliru demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Muliya negeri kita, Indonesia raya.





Daftar Pustaka

http://kaskus.us.com/unduh 19 September 2011 16.53
http://oemahmatematika.com 19 September 2011
UUD 1945
keterangan dari cucu Alm. Soenodjo
(pejuang ’45)


Rabu, 12 Juli 2017

IBU PERBU PELECUT SEMANGAT JUANG



cut nyak dien kartini cut meutia


Karakter bangsa,mungkin kata yang kerap muncul menjadi penutup diskusi penyebab keterpurukan Bangsa Indonesia saat ini. Kalau istilah ekstrimnya bangsa saat ini berada di titik nadir. Perbaikan karakter bangsa merupakan satu kunci terpenting untuk menyongsong perjalanan yang baru. Untuk membuka cakrawala dunia yang paling penting ,agar kita mampu meraih. Tidak ada batasan untuk dalam barisan terdepan. Karena itu tanpa mengedepankan gender, siapa yang mampu, pria atau wanita,karena kebersamaan adalah karakter bangsa kita. Pria atau wanita bukan masalah dan tidak perlu dimasalahkan. Kepentingan bangsa adalah masalah yang harus di kedepankan.
Dalam paparan yang sederhana ini penulis mencoba mengangkat pejuang wanita sebagai tauladan karakter bangsa. Jika ada anggapan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungitidakselamanyabenar.Sebabdalamdiriwanitatersimpankekuatan,yangmampumengguncangdunia. Hal inidapatkitagalidalamdiripejuangwanita. Kita mengenal Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren,R.A Kartini,Dewi Sartika  dan pejuang wanita lainnya. Masing-masing diri memiliki tantangan yang berbeda. Karenaitu,masing-masingmemilikikisah yang berbeda. Perjuangan menuju kemerdekaan tiada habisnya.Tidak sedikit pejuang wanita yang gugur melawan penjajah.Perjuangan mereka dalam kancah peperangan telah memberi warna tersendiri dalam sejarah perjuangan kita.Dalam tulisan ini penulis mengangkat salah satu kisah pejuang wanita. Cut NyakDhien,salah satu dari wanita-wanita baja,yang memiliki kisah tersendiri,dalam usahanya mengusir penjajah di daerahnya.
Cut Nyak Dhien adalah pahlawan dari Serambi Mekkah yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis.Di usianya yang belia, tidak ada kata menyerah dalam melawan pasukan invasi Belanda pada abad ke-19.Beliau keluar masuk hutan,dengan menggenggam senjata belati, tak mengenal rasa getar hingga akhir hayatnya. Betapa heroik perjuangan Cut Nyak Dhien, yang mampu mengobarkan semangat juang rakyat Aceh.
Latar belakang kehidupan pahlawan wanita asal Aceh ini,sudah telihat dari kehidupan awal masa anak-anaknya.Pemberian nama yang indah pada dirinya seperti pertanda, jika akhirnya akan menjadi wanita terkenalsepanjang masa. Beliau  lahir di Lampadang, pada tahun 1848. Cut Nyak Dhien dilahirkan di lingkungan keluarga tersohor dan terhormat. Kehidupan dalam keluargayang taat beragama di daerah Aceh Besar, wilayah VI Mukim bagian dari wilayah Sagi XXV, tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang Uleebalang VI Mukim. Ayahnya keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati datang ke Aceh abad ke 17 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampadang.Sebagaiseorang putri dari keluarga yang tersorot di Aceh,sejak kecil Dhien telah diberikan pendidikan agama Islam. Pendidikan dan pengajaran kebesaran Islam terutama sikap benci terhadap kemungkaran dan penindasan selain itu juga ditanamkan rasa tidak senang terhadap pengganggu agama Islam dan bangsanya.
Dari hasil pendidikan terssebut mampu membentuk sikap yang kuat. Bagi mereka mati membela agama syahid hukumnya, dan akan ditanggung mendapat surga di akhirat.Pengaruh pendidikan agama yang amat besaritu, menjadikan Cut Nyak Dhien memiliki sifat tabah,teguh pendirian,jiwa kepemimpinan yang tinggi, setia,semangat juang yang besar, dan tawakal.
Wanita yang tak pernah gentar ini, memiliki pengetahuan yangkuat,baik dari ibu dan ayahnya. Selain itu beliau juga memiliki banyak guru agama. Selain miliki pengetahuan yang kuat Cut Nyak Dhien juga terkenal akan kecantikannya. Dalam usia yang masih belia,banyak laki-laki yang tertarik dan suka dengannya. Sampai pada akhirnya datang seorang laki-laki bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga putra dari Uleebalang Lam Nga XIII  berusaha melamar Cut Nyak Dhien. Teuku Nanta Setia menyetujuinya, pada tahun 1862 Cut Nyak Dhien Sampai dengan masa dewasanya, ia ditunangkan dan dikawinkanoleh kedua orang tuanya.Meski usianya tergolong masih muda belia,kedua orang tuanya sudah yakin dengqan bekal pengetahuan yang mereka berikan kepada Cut Nyak Dhien. Perayaan pernikahan dimeriahkan oleh kehadiran penyair terkenal Abdul Karim yang membawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan perbuatan-perbuatan heroik yang dapat menggugah semangat bagi pendengarnya.
Tanah Rencong kian bergelora pada tanggal 26 Maret1873, Belanda menyatakan perang pada Aceh yang ditandai tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal Citadel van Antwerpen.
            Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler. Belanda mengirim 3.198 prajurit. Pada tanggal 8 April1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen dipimpin oleh Köhler, dan menguasai Masjid Raya Baiturrahman serta membakarnya. Kesultanan Acehmampu menang dalampeperangini. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenanganatastewasnyaKöhler. 
Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan JenderalJan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember1875. Ketika itu Teuku Cek Ibrahim turut aktif di garis depan peperangan di daerah VI Mukim.Cut Nyak Dhien berusaha mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan itu dan senantiasa menjadi penyemangat perjuangan suaminya. NamunSosok yang sangat berharga baginya gugur dalam pertempuran di GleTarum,29 juni 1878. Kekejaman Belanda menumbuhkan jiwa juangdalamdiri Cut NyakDhien.. Perempuan 28 tahun itu bersumpah bahwa beliau akan membalas apa yang telah dilakukan Belanda, Dia ingin menghancurkan Belanda. Cut Nyak Dhien bersumpah hanya akan menikah lagi dengan laki-laki yang bersedia membantu untuk membalas kematian Teuku Ibrahim.
Sejak itu tahun 1880,tepat 2 tahun kematian suaminya,datanglah seorang tokoh pejuang Aceh bernama Teuku Umar yang ingin melamar Cut Nyak Dhien. Teuku Umar adalah kemenakan dari ayahnya dan pejuang kemerdekaan yang bertaktik. Beliauterkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda sehingga sangat disegani Belanda. Awalnya Cut Nyak Dhien menolak pinangan Teuku Umar. Namun, ternyata Teuku Umar mempersilakan Cut Nyak Dhien untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah. Sejak menikah dengan Teuku Umar semangat juang Cut Nyak Dhien semakin besar.
Pertempuran dengan kolonial Belanda semakin meninggi. Beberapa wilayah yang dikuasai Belanda berhasil direbut Teuku Umar. Sejak menikah denganCut Nyak Dhien, Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah mempunyai istri sebelumnya, Cut Nyak Dhien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Perempuan inilah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan buruknya.
Perang dilakukan secara besar-besaran dengan dikobarkannya perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 September1893, Teuku Umar dan pasukannya 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka menjadikan Teuku Umar komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Teuku Umar dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Bahkan,Cut Nyak Meutiamenemui dan memakinya. Cut Nyak Dien berusaha mengatakan untuk kembali melawan Belanda dan Teuku Umar masih terus pada rencana awal. Umar mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh. Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Tak pernah ada rasa takut gentar dalam diri Cut Nyak Dhien untuk mendampingi suami ke medan perang, meskipun melintasi hutan yang penuh marabahayadanterkadang mereka harus menahan lapar dan dahaga namun semangat mereka tidak pernah sirna dalam membela tanah air dan agama.
Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Gerilyawan Aceh dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar terus melawan Belanda, lalu menyerang Kutaraja dan Meulaboh. Unit "Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Kebanyakan pasukan "De Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya. Akibatnya Van der Heyden membubarkan unit "De Marsose".Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.
Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari1899. Akhirnya, Teuku Umar tertangkap oleh Belanda dan gugur tertembak 8 peluru di dadanya.
Sejak meninggalnya Teuku Umar,Cut Nyak Dien kembali sendiri lagi. Selama 6 tahun Cut Nyak Dhien mengoordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan. Cut NyakDhien memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Pasukan ini terus bertempur sampai batas kehancurannya.  Tidak pernah surut semangatnya, dia terus melanjutkan perjuangan. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah atau tunduk pada penjajah. Tidak mengenal kata kompromi bahkan walau dengan istilah berdamai sekalipun dengan Belanda yang disebutnya “kafir-kafir”.
Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh, sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya,namun sekalipun tidak pernah berhasil.
Lama-lama pasukan Cut Nyak Dhien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianya kian lanjut, kesehatannya kian menurun, seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dhien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit seperti encok mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasan dari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Cut Nyak Dhien  menjadi sangat marah. Pang Laot Ali tetap tak sampai hati melihat penderitaan pimpinannya. Akhirnya ia menghianatinya. Kepada Belanda ia melaporkan persembunyiannya dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.
Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang. Dari mulutnya terucap kalimat, “Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”. Cut Nyak Dhien masih nampak tetap ingin melawan pasukan Belanda ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap, Cut Nyak Dhien masih sempat mencabut rencong meskipun Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya.
Saat di dalam tawanan, Cut Nyak Dhien  masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk kepada Belanda. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. yang berati mengingkari salah satu butir perjanjiannya dengan Pang Laot Ali.
Di Sumedang tidak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906. Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat. Tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas Cut Nyak Dhien. Ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu" Orang-orang yang datang banyak membawakan makanan atau pakaian, selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar, juga karena Ibu Perbu tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda. Ibu Perbu adalah sebutan untuk Cut Nyak Dhien.
Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, Hinggasaat Ibu Perbu meninggal duniadan dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh,Sumedang.
Semangat dan kegigihan Cut Nyak Dhien yang tinggi memberikan arti yang besar.Perjuangannya melawan penjajahan,dan penindasan tidaklah mudah. Cut Nyak Dhien mampu mengobarkan semangat juang rakyat Aceh.Membela mati-matian Agama dan ingin menjadikan Aceh merdeka sampai titik darah penghabisannya.
Teladan bagi bangsa Indonesia,Cut Nyak Dhien gigih dan tidak pernah mengingkari sumpahnya.Ia dengan berani mampu membangkitkan semangat berjuang kaumnya.
Bercermin terhadap kehidupan Cut Nyak Dhien membuat generasi penerus patut bersyukur terhadap nikmat kemerdekaan yang telah di raih dan mengisinya dengan hal-hal positif dan bermanfaat. Kegagalan dan kekecewaan dalam hidup adalah hal yang wajar namun tidak menjadikan perjuangan berakhir hanya disitu, yang terpenting adalah bagaimana semangat untuk segera bangkit meraih kesempatan lain, yang lebih baik. Sikap patriotis yang dimiliki Cut Nyak Dhien  patut diteladani serta terus menerus ditumbuhkan dalam diri generasi muda dan masyarakat sehingga sikap bela bangsa dan negara dapat terbina dalam rangka untuk mengisi pembangunan yang sedang terlaksana.
Karakter Cut NyakDhien yang dapatkitajadikantauladanbagibangsakitayaitu:
1.         Kegigihan,kegigihankitauntukbersatudalammelawanketidakkemerdekaan yang kitarasakan,bagaimanacarauntukmelawankemiskinandankebodohan.
2.         Jiwakepemimpinannya yang tinggidapatdijadikancontohuntukpemimpinbangsakita,dimanamenjadipemimpin yang tidakmengabaikanrakyatnya.
3.         keteguhpendiriannya yang kuatmemberikankitatauladanuntuktidakberkhianatterhadapbangsasendiri.
4.         Kesetiaannyaterhadapagamanyamemberikantauladanbangsasaatiniuntukselalumengingatajaran agama.
Sepenggal kisah kehidupan Cut Nyak Dhien yang dapat di jadikan teladan bagi bangsa.Bahwa keteguhan hati,keteguhan iman,keteguhan diri, semangat, dan tidak mudah menyerah dimasa yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi bangsa Indonesia.Semua adalah bagian dari suatu proses kehidupan yang panjang.


PROKLAMATOR SANG INSPIRATOR



PROKLAMATOR SANG INSPIRATOR


Ir. Soekarno, semua rakyat Indonesia pasti tahu siapa Dia. Ya Dia merupakan Presiden pertama Republik Indonesia. Presiden yang biasa dipanggil Bung karno ini lahir di Blitar, Jawa Timur 110 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni. Dia lahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Sejak kecil Bung Karno sudah terbiasa hidup mandiri, terbukti sejak SD sampai tamat Dia indekos di rumah H. Oemar Said Tokroaminoto, pendiri organisasi Syarikat Islam. Kemudian Dia melanjutkan sekolahnya di HBS (Hoogere Burger School). Saat menuntut ilmu di HBS bung karno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus tahun 1920, Dia melanjutkan sekolahnya di Bandung tepatnya di THS (Technische Hooge School atau sekolah yang sekarang menjadi ITB). Dia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian Beliau merumuskan ajaran marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia merdeka. Akibatnya, Belanda memasukanya ke penjara Sukamiskin Bandung pada 29 Desember 1929. Dalam pembelaanya berjudul Indonesia Menggugat, Beliau menunjukan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaanya  itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinya. Akibatnya Beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindah ke Bengkulu.

 Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1995 Ir. Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang mengakibatkan penolakan MPR atas pertanggungjawabanya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden. Kesehatanya terus memburuk, dan pada hari Minggu , 21 Jui1970 Ia meninggal dunia di RSPAD. Ia kemudian disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di dekat makam ibunya di Blitar. Pemerintah menganugerahkanya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.

Itulah secuil kisah yang menurut Saya pribadi sangat mengaggumkan. Bagaimana tidak sejak kecil terbiasa hidup mandiri, yang mungkin sangat susah dilakukan anak emaja jaman sekarang terutama Saya sendiri. Remaja jaman sekarang tergolong manja, pemalas, dan bejad. Mengapa Saya berkata demikian? Ya memang begitu kenyataanya, malas belajar, malas beribadah. Bahkan remaja jaman sekarang sudah terbiasa dengan hal-hal kriminal, dari mulai berjudi sampai dengan pembunuhan. Kalian mungkin tahu balita dari Surabaya bernama Sandi? Dia salah merupakan salah satu balita yang kurang beruntung dari sekian banyak balita di Indonesia. Mengapa Saya bilang kurang beruntung? Karena Dia terlahir dari keluarga yang kurang bisa mendidiknya. Diusianya yang baru 4 tahun Dia sudah terbiasa dengan barang yang bernama rokok. Lebih parahnya lagi Dia juga terbiasa mengucapkan kata-kata kotor, kata-kata yang belum pantas diucapkan seorang balita. Astagfirullah haladzim, hey! Orangtuanya dimana? Sudah matikah? atau memang acuh tak acuh dengan kelakuan anaknya itu? Lebih parahnya lagi, orangtuanya memvidiokan anaknya yang sedang ngerokok dan berbicara kata-kata kotor kemudian diunggah disitus youtube. Apa mungkin ya orangtuanya bangga? Hhahaha Saya hanya bisa tertawa dan heran bila memang begitu. Bagi kalian yang tidak tahu hal tersebut, silahkan buka situs youtube dan cari vidionya dengan kata kunci “Sandi Balita Bejad”. Silahkan kalian cermati betapa mirisnya anak Indonesia jaman sekarang. Apakah ini yang dinginkan para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya supaya Indonesia merdeka, Indonesia menjadi negara maju? Tentu saja tidak! Apakah mungkin Indonesia bisa maju dengan generasi penerus yang seperti itu? Tidak akan mungkin! Mungkin sebagian dari kalian mengatakan “ah, itukan hanya sebagian kecil anak Indonesia yang tingkah lakunya seperti itu”. Ya, memang benar hanya sebagian kecil. Tapi, dari sebagian kecil itu, Kita bisa mengambil hikmahnya dan mencegah adanya sandi-sandi baru di Indonesia. Tak hanya itu kelakuan remaja jaman sekarang yang kelakuanya patut dipertanyakan, tapi mungkin tulisan Saya taka kan bisa menuliskanya satu per satu. Tapi, mungkin contoh diatas mampu menggambarkan betapa buruknya remaja Indonesia jaman sekarang, dan bisa menjadi pelajaran.

Tidak semua remaja di Indonesia berkelakuan bejad. Tetapi ada juga remaja Indonesia yang berprestasi, mempunyai jasa untuk Negara Kita yang tercinta ini, Mereka mempunyai andil dalam mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dari mulai olimpiade sains internasional, cabang-cabang olahraga, sampai hal-hal kecil lain yang bisa mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang baik dan bagus bukan hanya bisa dilakukan dengan hal-hal di atas tadi, tapi bisa juga dengan hal-hal kecil mulai dari diri kita sendiri. Misalnya rajin belajar, rajin beribadah, menjaga alam Indonesia ini, dan sebagainya. Tapi! Jumlah remaja yang baik sesuai dengan koridornya juga sedikit atau mungkin malah kalah jumlah dengan remaja bejadnya. Jadi, intinya remaja di Indonesia dicabangkan menjadi 3 cabang. Pertama remaja yang baik, kedua remaja yang bejad, ketiga remaja yang ditengah-tengah antara baik dan bejad. Lama kelamaan remaja tipe ketiga juga akan masuk tipe pertama dan kedua seiring berjalanya waktu. Tergantung dengan diri kita sendiri. Anda mau menjadi tipe yang keberapa?

Lalu apa hubunganya remaja dengan Bung Karno? Tentu Bung karno patut kita contoh sikapnya. Banyak sikapnya yang bagus dicontoh para remaja jaman jaman sekarang. Diantaranya Dia sangat mandiri. Dia sangat tegas. Keberanianya juga jangan dipertanyakan lagi, Dia berani dan sangat tegas. Dia berani meskipun melawan Belanda yang terkenal kejam. Alhasil dia sempat beberapa kali dibuang dan dipenjarakan. Terlepas dari paham komunisme yang Saya tidak sukai, dan cara Dia berkeluarga dengan berpoligami. Bung Karno tercata telah menikai tiga orang wanita. Salah satunya yaitu Ibu Fatmawati yang merupakan penjahit bendera pusaka. Dengan Fatmawati, Bung karno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Jikalau ditanya, apa yang telah Soekarno berikan ke Indonesia? Tentunya sangat banyak. Dia yang menciptakan dasar negara Indonesia yaitu “pancasila”. Dia juga yang menulis teks proklamasi dengan bantuan Mohamad Hatta. Dan masih banyak lagi jasa-jasanya untuk Negara tercinta Kita ini. Dimasa Dia menjadi Presiden, Soekarno tak henti-hentinya menyemangati para pemuda pada waktu itu untuk maju, untuk berkreasi, untuk berprestasi. Untuk mengubah cara berfikir bangsa indonesia dari yang semula terjajah dan terkekang menjadi bebas dan merdeka memang agak sulit. Tentunya Bung Karno tahu akan hal itu. Maka lewat pidato-pidatonya yang menurut saya sangat bagus, dan mengesankan, Dia selalu menyemangati bangsa Indonesia. Beda dengan pidato SBY yang membuat para anggota DPR ngantuk, atau mungkin anggota DPRnya saja yang kurang mempunyai etika.Miris rasanya angoota DPR yang digaji rakyat sebagai jembatan aspirasi antara rakyat dengan pemerintah, malah kerjanya tidur saat rapat, terlambat, bolos, bahkan sampai korupsi uang Negara. Bermilyar-milyar bahkan bertriliun-triliun uang rakyat dikorupsi pejabat-pejabat negara yang berdasi itu.


                                 Soekarno dan Ibu Fatmawati

Mungkin Anda tahu peristiwa Rengas Dengklok? Ya, itu merupakan peristiwa dimana para pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta. Alasanya yaitu, para pemuda menghendaki proklamasi untuk segera dilakukan. Karena apabila proklamasi tidak segera dilakukan Jepang akan berusaha menghambat kemerdekaan Indonesia. Akhirnya dengan penculikan itu Bung Karno menyetujui untuk segera memproklamasikan bangsa Indonesia. Di peristiwa itulah kita bisa melihat semangat para pemuda. Semangat untuk merdeka. Bung Karno pun menyadari akan hal itu. Dia mengatakan, Indonesia tidak akan merdeka tanpa adanya semangat dari para pemuda. Oleh karena itu untuk membangun sebuah bangsa kita membutuhkan para pemuda. Saya sangat terinspirasi dengan kata-kata Bung Karno, yaitu “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”. Artinya seribu orang tua hanya dapat bermimpi mengubah dunia, tapi hanya dengan seorang pemuda dapat mengubah dunia. Itu sudah terbukti, kita liat Barrack Obama, Presiden Amerika dari golongan pemuda. Dia mampu menarik hati warga Amerika untuk memilihnya sebagai Presiden Amerika Serikat. Karena Amerika sudah paham betul dengan kekuatan para pemuda. Disisi lain kita liat anggota DPR yang sebagian besar adalah orang tua. Mereka seperti tidak punya semangat bekerja, tidur pada saat rapat, dan diantaranya ada yang suka memakan uang rakyat.

Ayo pemuda Indonesia, sudah saatnya kita memimpin negara tercinta kita ini! Yang tua jangan malu untuk dipimpin para pemuda dan berikanlah para pemuda kesempatan untuk memimpin Indonesia!!

  




DAFTAR PUSTAKA

1google.com
2wikipedia.org/wiki/soekarno