Cari Blog Ini

Rabu, 12 Juli 2017

IBU PERBU PELECUT SEMANGAT JUANG



cut nyak dien kartini cut meutia


Karakter bangsa,mungkin kata yang kerap muncul menjadi penutup diskusi penyebab keterpurukan Bangsa Indonesia saat ini. Kalau istilah ekstrimnya bangsa saat ini berada di titik nadir. Perbaikan karakter bangsa merupakan satu kunci terpenting untuk menyongsong perjalanan yang baru. Untuk membuka cakrawala dunia yang paling penting ,agar kita mampu meraih. Tidak ada batasan untuk dalam barisan terdepan. Karena itu tanpa mengedepankan gender, siapa yang mampu, pria atau wanita,karena kebersamaan adalah karakter bangsa kita. Pria atau wanita bukan masalah dan tidak perlu dimasalahkan. Kepentingan bangsa adalah masalah yang harus di kedepankan.
Dalam paparan yang sederhana ini penulis mencoba mengangkat pejuang wanita sebagai tauladan karakter bangsa. Jika ada anggapan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungitidakselamanyabenar.Sebabdalamdiriwanitatersimpankekuatan,yangmampumengguncangdunia. Hal inidapatkitagalidalamdiripejuangwanita. Kita mengenal Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren,R.A Kartini,Dewi Sartika  dan pejuang wanita lainnya. Masing-masing diri memiliki tantangan yang berbeda. Karenaitu,masing-masingmemilikikisah yang berbeda. Perjuangan menuju kemerdekaan tiada habisnya.Tidak sedikit pejuang wanita yang gugur melawan penjajah.Perjuangan mereka dalam kancah peperangan telah memberi warna tersendiri dalam sejarah perjuangan kita.Dalam tulisan ini penulis mengangkat salah satu kisah pejuang wanita. Cut NyakDhien,salah satu dari wanita-wanita baja,yang memiliki kisah tersendiri,dalam usahanya mengusir penjajah di daerahnya.
Cut Nyak Dhien adalah pahlawan dari Serambi Mekkah yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis.Di usianya yang belia, tidak ada kata menyerah dalam melawan pasukan invasi Belanda pada abad ke-19.Beliau keluar masuk hutan,dengan menggenggam senjata belati, tak mengenal rasa getar hingga akhir hayatnya. Betapa heroik perjuangan Cut Nyak Dhien, yang mampu mengobarkan semangat juang rakyat Aceh.
Latar belakang kehidupan pahlawan wanita asal Aceh ini,sudah telihat dari kehidupan awal masa anak-anaknya.Pemberian nama yang indah pada dirinya seperti pertanda, jika akhirnya akan menjadi wanita terkenalsepanjang masa. Beliau  lahir di Lampadang, pada tahun 1848. Cut Nyak Dhien dilahirkan di lingkungan keluarga tersohor dan terhormat. Kehidupan dalam keluargayang taat beragama di daerah Aceh Besar, wilayah VI Mukim bagian dari wilayah Sagi XXV, tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang Uleebalang VI Mukim. Ayahnya keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati datang ke Aceh abad ke 17 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampadang.Sebagaiseorang putri dari keluarga yang tersorot di Aceh,sejak kecil Dhien telah diberikan pendidikan agama Islam. Pendidikan dan pengajaran kebesaran Islam terutama sikap benci terhadap kemungkaran dan penindasan selain itu juga ditanamkan rasa tidak senang terhadap pengganggu agama Islam dan bangsanya.
Dari hasil pendidikan terssebut mampu membentuk sikap yang kuat. Bagi mereka mati membela agama syahid hukumnya, dan akan ditanggung mendapat surga di akhirat.Pengaruh pendidikan agama yang amat besaritu, menjadikan Cut Nyak Dhien memiliki sifat tabah,teguh pendirian,jiwa kepemimpinan yang tinggi, setia,semangat juang yang besar, dan tawakal.
Wanita yang tak pernah gentar ini, memiliki pengetahuan yangkuat,baik dari ibu dan ayahnya. Selain itu beliau juga memiliki banyak guru agama. Selain miliki pengetahuan yang kuat Cut Nyak Dhien juga terkenal akan kecantikannya. Dalam usia yang masih belia,banyak laki-laki yang tertarik dan suka dengannya. Sampai pada akhirnya datang seorang laki-laki bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga putra dari Uleebalang Lam Nga XIII  berusaha melamar Cut Nyak Dhien. Teuku Nanta Setia menyetujuinya, pada tahun 1862 Cut Nyak Dhien Sampai dengan masa dewasanya, ia ditunangkan dan dikawinkanoleh kedua orang tuanya.Meski usianya tergolong masih muda belia,kedua orang tuanya sudah yakin dengqan bekal pengetahuan yang mereka berikan kepada Cut Nyak Dhien. Perayaan pernikahan dimeriahkan oleh kehadiran penyair terkenal Abdul Karim yang membawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan perbuatan-perbuatan heroik yang dapat menggugah semangat bagi pendengarnya.
Tanah Rencong kian bergelora pada tanggal 26 Maret1873, Belanda menyatakan perang pada Aceh yang ditandai tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal Citadel van Antwerpen.
            Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler. Belanda mengirim 3.198 prajurit. Pada tanggal 8 April1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen dipimpin oleh Köhler, dan menguasai Masjid Raya Baiturrahman serta membakarnya. Kesultanan Acehmampu menang dalampeperangini. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenanganatastewasnyaKöhler. 
Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan JenderalJan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember1875. Ketika itu Teuku Cek Ibrahim turut aktif di garis depan peperangan di daerah VI Mukim.Cut Nyak Dhien berusaha mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan itu dan senantiasa menjadi penyemangat perjuangan suaminya. NamunSosok yang sangat berharga baginya gugur dalam pertempuran di GleTarum,29 juni 1878. Kekejaman Belanda menumbuhkan jiwa juangdalamdiri Cut NyakDhien.. Perempuan 28 tahun itu bersumpah bahwa beliau akan membalas apa yang telah dilakukan Belanda, Dia ingin menghancurkan Belanda. Cut Nyak Dhien bersumpah hanya akan menikah lagi dengan laki-laki yang bersedia membantu untuk membalas kematian Teuku Ibrahim.
Sejak itu tahun 1880,tepat 2 tahun kematian suaminya,datanglah seorang tokoh pejuang Aceh bernama Teuku Umar yang ingin melamar Cut Nyak Dhien. Teuku Umar adalah kemenakan dari ayahnya dan pejuang kemerdekaan yang bertaktik. Beliauterkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda sehingga sangat disegani Belanda. Awalnya Cut Nyak Dhien menolak pinangan Teuku Umar. Namun, ternyata Teuku Umar mempersilakan Cut Nyak Dhien untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah. Sejak menikah dengan Teuku Umar semangat juang Cut Nyak Dhien semakin besar.
Pertempuran dengan kolonial Belanda semakin meninggi. Beberapa wilayah yang dikuasai Belanda berhasil direbut Teuku Umar. Sejak menikah denganCut Nyak Dhien, Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah mempunyai istri sebelumnya, Cut Nyak Dhien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Perempuan inilah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan buruknya.
Perang dilakukan secara besar-besaran dengan dikobarkannya perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 September1893, Teuku Umar dan pasukannya 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka menjadikan Teuku Umar komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Teuku Umar dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Bahkan,Cut Nyak Meutiamenemui dan memakinya. Cut Nyak Dien berusaha mengatakan untuk kembali melawan Belanda dan Teuku Umar masih terus pada rencana awal. Umar mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh. Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Tak pernah ada rasa takut gentar dalam diri Cut Nyak Dhien untuk mendampingi suami ke medan perang, meskipun melintasi hutan yang penuh marabahayadanterkadang mereka harus menahan lapar dan dahaga namun semangat mereka tidak pernah sirna dalam membela tanah air dan agama.
Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Gerilyawan Aceh dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar terus melawan Belanda, lalu menyerang Kutaraja dan Meulaboh. Unit "Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Kebanyakan pasukan "De Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya. Akibatnya Van der Heyden membubarkan unit "De Marsose".Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.
Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari1899. Akhirnya, Teuku Umar tertangkap oleh Belanda dan gugur tertembak 8 peluru di dadanya.
Sejak meninggalnya Teuku Umar,Cut Nyak Dien kembali sendiri lagi. Selama 6 tahun Cut Nyak Dhien mengoordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan. Cut NyakDhien memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Pasukan ini terus bertempur sampai batas kehancurannya.  Tidak pernah surut semangatnya, dia terus melanjutkan perjuangan. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah atau tunduk pada penjajah. Tidak mengenal kata kompromi bahkan walau dengan istilah berdamai sekalipun dengan Belanda yang disebutnya “kafir-kafir”.
Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh, sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya,namun sekalipun tidak pernah berhasil.
Lama-lama pasukan Cut Nyak Dhien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianya kian lanjut, kesehatannya kian menurun, seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dhien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit seperti encok mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasan dari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Cut Nyak Dhien  menjadi sangat marah. Pang Laot Ali tetap tak sampai hati melihat penderitaan pimpinannya. Akhirnya ia menghianatinya. Kepada Belanda ia melaporkan persembunyiannya dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.
Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang. Dari mulutnya terucap kalimat, “Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”. Cut Nyak Dhien masih nampak tetap ingin melawan pasukan Belanda ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap, Cut Nyak Dhien masih sempat mencabut rencong meskipun Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya.
Saat di dalam tawanan, Cut Nyak Dhien  masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk kepada Belanda. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. yang berati mengingkari salah satu butir perjanjiannya dengan Pang Laot Ali.
Di Sumedang tidak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906. Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat. Tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas Cut Nyak Dhien. Ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu" Orang-orang yang datang banyak membawakan makanan atau pakaian, selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar, juga karena Ibu Perbu tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda. Ibu Perbu adalah sebutan untuk Cut Nyak Dhien.
Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, Hinggasaat Ibu Perbu meninggal duniadan dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh,Sumedang.
Semangat dan kegigihan Cut Nyak Dhien yang tinggi memberikan arti yang besar.Perjuangannya melawan penjajahan,dan penindasan tidaklah mudah. Cut Nyak Dhien mampu mengobarkan semangat juang rakyat Aceh.Membela mati-matian Agama dan ingin menjadikan Aceh merdeka sampai titik darah penghabisannya.
Teladan bagi bangsa Indonesia,Cut Nyak Dhien gigih dan tidak pernah mengingkari sumpahnya.Ia dengan berani mampu membangkitkan semangat berjuang kaumnya.
Bercermin terhadap kehidupan Cut Nyak Dhien membuat generasi penerus patut bersyukur terhadap nikmat kemerdekaan yang telah di raih dan mengisinya dengan hal-hal positif dan bermanfaat. Kegagalan dan kekecewaan dalam hidup adalah hal yang wajar namun tidak menjadikan perjuangan berakhir hanya disitu, yang terpenting adalah bagaimana semangat untuk segera bangkit meraih kesempatan lain, yang lebih baik. Sikap patriotis yang dimiliki Cut Nyak Dhien  patut diteladani serta terus menerus ditumbuhkan dalam diri generasi muda dan masyarakat sehingga sikap bela bangsa dan negara dapat terbina dalam rangka untuk mengisi pembangunan yang sedang terlaksana.
Karakter Cut NyakDhien yang dapatkitajadikantauladanbagibangsakitayaitu:
1.         Kegigihan,kegigihankitauntukbersatudalammelawanketidakkemerdekaan yang kitarasakan,bagaimanacarauntukmelawankemiskinandankebodohan.
2.         Jiwakepemimpinannya yang tinggidapatdijadikancontohuntukpemimpinbangsakita,dimanamenjadipemimpin yang tidakmengabaikanrakyatnya.
3.         keteguhpendiriannya yang kuatmemberikankitatauladanuntuktidakberkhianatterhadapbangsasendiri.
4.         Kesetiaannyaterhadapagamanyamemberikantauladanbangsasaatiniuntukselalumengingatajaran agama.
Sepenggal kisah kehidupan Cut Nyak Dhien yang dapat di jadikan teladan bagi bangsa.Bahwa keteguhan hati,keteguhan iman,keteguhan diri, semangat, dan tidak mudah menyerah dimasa yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi bangsa Indonesia.Semua adalah bagian dari suatu proses kehidupan yang panjang.


PROKLAMATOR SANG INSPIRATOR



PROKLAMATOR SANG INSPIRATOR


Ir. Soekarno, semua rakyat Indonesia pasti tahu siapa Dia. Ya Dia merupakan Presiden pertama Republik Indonesia. Presiden yang biasa dipanggil Bung karno ini lahir di Blitar, Jawa Timur 110 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni. Dia lahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Sejak kecil Bung Karno sudah terbiasa hidup mandiri, terbukti sejak SD sampai tamat Dia indekos di rumah H. Oemar Said Tokroaminoto, pendiri organisasi Syarikat Islam. Kemudian Dia melanjutkan sekolahnya di HBS (Hoogere Burger School). Saat menuntut ilmu di HBS bung karno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus tahun 1920, Dia melanjutkan sekolahnya di Bandung tepatnya di THS (Technische Hooge School atau sekolah yang sekarang menjadi ITB). Dia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian Beliau merumuskan ajaran marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia merdeka. Akibatnya, Belanda memasukanya ke penjara Sukamiskin Bandung pada 29 Desember 1929. Dalam pembelaanya berjudul Indonesia Menggugat, Beliau menunjukan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaanya  itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinya. Akibatnya Beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindah ke Bengkulu.

 Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1995 Ir. Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang mengakibatkan penolakan MPR atas pertanggungjawabanya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden. Kesehatanya terus memburuk, dan pada hari Minggu , 21 Jui1970 Ia meninggal dunia di RSPAD. Ia kemudian disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di dekat makam ibunya di Blitar. Pemerintah menganugerahkanya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.

Itulah secuil kisah yang menurut Saya pribadi sangat mengaggumkan. Bagaimana tidak sejak kecil terbiasa hidup mandiri, yang mungkin sangat susah dilakukan anak emaja jaman sekarang terutama Saya sendiri. Remaja jaman sekarang tergolong manja, pemalas, dan bejad. Mengapa Saya berkata demikian? Ya memang begitu kenyataanya, malas belajar, malas beribadah. Bahkan remaja jaman sekarang sudah terbiasa dengan hal-hal kriminal, dari mulai berjudi sampai dengan pembunuhan. Kalian mungkin tahu balita dari Surabaya bernama Sandi? Dia salah merupakan salah satu balita yang kurang beruntung dari sekian banyak balita di Indonesia. Mengapa Saya bilang kurang beruntung? Karena Dia terlahir dari keluarga yang kurang bisa mendidiknya. Diusianya yang baru 4 tahun Dia sudah terbiasa dengan barang yang bernama rokok. Lebih parahnya lagi Dia juga terbiasa mengucapkan kata-kata kotor, kata-kata yang belum pantas diucapkan seorang balita. Astagfirullah haladzim, hey! Orangtuanya dimana? Sudah matikah? atau memang acuh tak acuh dengan kelakuan anaknya itu? Lebih parahnya lagi, orangtuanya memvidiokan anaknya yang sedang ngerokok dan berbicara kata-kata kotor kemudian diunggah disitus youtube. Apa mungkin ya orangtuanya bangga? Hhahaha Saya hanya bisa tertawa dan heran bila memang begitu. Bagi kalian yang tidak tahu hal tersebut, silahkan buka situs youtube dan cari vidionya dengan kata kunci “Sandi Balita Bejad”. Silahkan kalian cermati betapa mirisnya anak Indonesia jaman sekarang. Apakah ini yang dinginkan para pahlawan yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya supaya Indonesia merdeka, Indonesia menjadi negara maju? Tentu saja tidak! Apakah mungkin Indonesia bisa maju dengan generasi penerus yang seperti itu? Tidak akan mungkin! Mungkin sebagian dari kalian mengatakan “ah, itukan hanya sebagian kecil anak Indonesia yang tingkah lakunya seperti itu”. Ya, memang benar hanya sebagian kecil. Tapi, dari sebagian kecil itu, Kita bisa mengambil hikmahnya dan mencegah adanya sandi-sandi baru di Indonesia. Tak hanya itu kelakuan remaja jaman sekarang yang kelakuanya patut dipertanyakan, tapi mungkin tulisan Saya taka kan bisa menuliskanya satu per satu. Tapi, mungkin contoh diatas mampu menggambarkan betapa buruknya remaja Indonesia jaman sekarang, dan bisa menjadi pelajaran.

Tidak semua remaja di Indonesia berkelakuan bejad. Tetapi ada juga remaja Indonesia yang berprestasi, mempunyai jasa untuk Negara Kita yang tercinta ini, Mereka mempunyai andil dalam mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dari mulai olimpiade sains internasional, cabang-cabang olahraga, sampai hal-hal kecil lain yang bisa mengharumkan nama Indonesia. Remaja yang baik dan bagus bukan hanya bisa dilakukan dengan hal-hal di atas tadi, tapi bisa juga dengan hal-hal kecil mulai dari diri kita sendiri. Misalnya rajin belajar, rajin beribadah, menjaga alam Indonesia ini, dan sebagainya. Tapi! Jumlah remaja yang baik sesuai dengan koridornya juga sedikit atau mungkin malah kalah jumlah dengan remaja bejadnya. Jadi, intinya remaja di Indonesia dicabangkan menjadi 3 cabang. Pertama remaja yang baik, kedua remaja yang bejad, ketiga remaja yang ditengah-tengah antara baik dan bejad. Lama kelamaan remaja tipe ketiga juga akan masuk tipe pertama dan kedua seiring berjalanya waktu. Tergantung dengan diri kita sendiri. Anda mau menjadi tipe yang keberapa?

Lalu apa hubunganya remaja dengan Bung Karno? Tentu Bung karno patut kita contoh sikapnya. Banyak sikapnya yang bagus dicontoh para remaja jaman jaman sekarang. Diantaranya Dia sangat mandiri. Dia sangat tegas. Keberanianya juga jangan dipertanyakan lagi, Dia berani dan sangat tegas. Dia berani meskipun melawan Belanda yang terkenal kejam. Alhasil dia sempat beberapa kali dibuang dan dipenjarakan. Terlepas dari paham komunisme yang Saya tidak sukai, dan cara Dia berkeluarga dengan berpoligami. Bung Karno tercata telah menikai tiga orang wanita. Salah satunya yaitu Ibu Fatmawati yang merupakan penjahit bendera pusaka. Dengan Fatmawati, Bung karno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Jikalau ditanya, apa yang telah Soekarno berikan ke Indonesia? Tentunya sangat banyak. Dia yang menciptakan dasar negara Indonesia yaitu “pancasila”. Dia juga yang menulis teks proklamasi dengan bantuan Mohamad Hatta. Dan masih banyak lagi jasa-jasanya untuk Negara tercinta Kita ini. Dimasa Dia menjadi Presiden, Soekarno tak henti-hentinya menyemangati para pemuda pada waktu itu untuk maju, untuk berkreasi, untuk berprestasi. Untuk mengubah cara berfikir bangsa indonesia dari yang semula terjajah dan terkekang menjadi bebas dan merdeka memang agak sulit. Tentunya Bung Karno tahu akan hal itu. Maka lewat pidato-pidatonya yang menurut saya sangat bagus, dan mengesankan, Dia selalu menyemangati bangsa Indonesia. Beda dengan pidato SBY yang membuat para anggota DPR ngantuk, atau mungkin anggota DPRnya saja yang kurang mempunyai etika.Miris rasanya angoota DPR yang digaji rakyat sebagai jembatan aspirasi antara rakyat dengan pemerintah, malah kerjanya tidur saat rapat, terlambat, bolos, bahkan sampai korupsi uang Negara. Bermilyar-milyar bahkan bertriliun-triliun uang rakyat dikorupsi pejabat-pejabat negara yang berdasi itu.


                                 Soekarno dan Ibu Fatmawati

Mungkin Anda tahu peristiwa Rengas Dengklok? Ya, itu merupakan peristiwa dimana para pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta. Alasanya yaitu, para pemuda menghendaki proklamasi untuk segera dilakukan. Karena apabila proklamasi tidak segera dilakukan Jepang akan berusaha menghambat kemerdekaan Indonesia. Akhirnya dengan penculikan itu Bung Karno menyetujui untuk segera memproklamasikan bangsa Indonesia. Di peristiwa itulah kita bisa melihat semangat para pemuda. Semangat untuk merdeka. Bung Karno pun menyadari akan hal itu. Dia mengatakan, Indonesia tidak akan merdeka tanpa adanya semangat dari para pemuda. Oleh karena itu untuk membangun sebuah bangsa kita membutuhkan para pemuda. Saya sangat terinspirasi dengan kata-kata Bung Karno, yaitu “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”. Artinya seribu orang tua hanya dapat bermimpi mengubah dunia, tapi hanya dengan seorang pemuda dapat mengubah dunia. Itu sudah terbukti, kita liat Barrack Obama, Presiden Amerika dari golongan pemuda. Dia mampu menarik hati warga Amerika untuk memilihnya sebagai Presiden Amerika Serikat. Karena Amerika sudah paham betul dengan kekuatan para pemuda. Disisi lain kita liat anggota DPR yang sebagian besar adalah orang tua. Mereka seperti tidak punya semangat bekerja, tidur pada saat rapat, dan diantaranya ada yang suka memakan uang rakyat.

Ayo pemuda Indonesia, sudah saatnya kita memimpin negara tercinta kita ini! Yang tua jangan malu untuk dipimpin para pemuda dan berikanlah para pemuda kesempatan untuk memimpin Indonesia!!

  




DAFTAR PUSTAKA

1google.com
2wikipedia.org/wiki/soekarno

Peran Pers dalam Pergerakan Nasional

Peran Pers dalam Pergerakan Nasional

        Berdirinya organisasi kebangsaan menandai kebangkitan pers Indonesia.Munculnya kesadaran akan pers dapat memberikan informasi tentang berbagai hal juga memengaruhi dan membentuk pendapat(opini) publik.Pada masa pergerakan nasional hampir semua partai mempunyai surat kabar dan dengan surat kabar itulah suatu organisasi kebangsaan memasyarakatkan,mengkampanyekan,dan mempropagandakan program-program organisasi serta kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial.
1.         Pers Budi Utomo
Pers sebagai penyambung organisasi,ia juga menerbitkan surat kabar Darmo Kondo
2.         Pers Serekat Islam
Menerbitkan Oetoesan Hindia Sejak 1913
3.         Pers Indische Partij
Diterbitkan majalah dua mingguan Het Tijsch rift dan surat kabar De Expres yang memuat pandangan politik Douwes Dekker
4.         Pers Perhimpunan Indonesia
Awalnya bernama Indische Vereeniging(IV) menerbitkan majalah Hindia Poetra kemudian diganti Indonesia Merdeka pada tahun 1923.
        Perkembangan awal Indonesia adalah pers Daerah dan bahasa Melayu,Tahun 1909,E.F.E. Douwes Dekker menilai kedudukan pers bahasa Melayu lebih penting dari pers Belanda.Adapun cir-cirii pers Melayu adalah :
1.Berisi berita atau karangan yang jelas ,hanya golongan keturunan Cina
2.Dibiayai dan  di kerjakan oleh orng Cina di mana lingkungan pembaca adalah penduduk Bumi Putra
3.Surat kabar berbahasa Melayu dibaca oleh kedua golongan itu.Contoh:Bintang Soerabaja(1861)isinya menentang pemerintah dan berpengaruh di kalangan orang Cina dari partai modern di Jawa Timur.    
       Pada masa demokrasi terpimpin kehidupan pers nasional didominasi oleh pers komunis.Harian Rakyat misalnya,ia mempropagandakan ideology komunis dan menyingkirkan ideology lain sehingga fungsi pers di telan arus.

       Pers Orde Baru


       Orde Baru merupakan titik balik,pemerintah bertekad melaksanakan ideologi Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen,maka lahirlah UU Pokok Pers yang mengatur kedudukan pers Indonesia sebagai suatu kekuatan masyarakat,penyalur,pembentuk pendapat umum,pada Desember 1966. Titik pokok pers nasional adalah ketetapan sidang umum MPRS IV Tahun 1966 ,disebutkan ‘’kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan untuk mengatakan serta menegakkan kebenaran dan keadilan,dan bukanlah kebebasan dalam pengertian liberalisme     .Pers berhubungan dengan keharusan pertanggungjawaban,UU No.11 Tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers yang disempurnakan UU No.4 Tahun 1967 .Fungsi Pers Nasional adalah alat revolusi dan merupakan mass media yang bersifat aktif,dinamis  kreatif,edukatif,dan mempunyai fungsi kemasyarakatan,pendorong dan pemupuk daya pikiran kritis dan progresif meliputi segala perwujudan kehidupan masyarakat Indonesia,karena itu
mempunyai hak kontrol,kritik,dan koreksi serta konstruktif.Dua buah komponen system komunikasi kita yang amat vital adalah radio dan televise.Pada masa ini kedua komponen tersebut berkembang dengan pesatnya.Namun,beritanya tunduk pada disiplin jurnalistik prs dan jurnalistik elektronik khususnya televisi.  
       Sebagai media yang memperjuangkan Pers Pancasila,Merdeka mengecam iklim ekonomi liberal yang mulai memperlihatkan wujudnya agar pemerintah melihat kembali system perekonomian Negara yang hendaknya benar-benar berpijak pada pasal 33 UUD 1945.2
       Berkali-kali Merdeka memberitahukan pada pembacanya akan fungsi pers baik melalui beberapa pejabat Negara maupun lewat tajuk,karikatur pojoknya.Sudah ada sindikatisme dalam urusan pers dengan gejala menjadikan pers sebagai alat untuk mengkatrol ambisi perseorangan.Usaha Merdeka untuk menjadikan dirinya sevbagai Pers Pancasila masih dalam perjalanan.Kehidupan pers sangat mencekam dan dipenuhi rasa ketakutan.Pejabat Presiden/Panglima Tertinggi Djuanda selaku Penguasa Perang Tertinggi (peperti)mengeluarkan peraturan peperti no.10 Tahun 1960 yang melarang penerbitan surat kabar atau majalah tanpa izin terlebih dahuludari penguasa keadaan bahaya.Dalam formulir permohonan izin harus menandatangani pernyataan tentang 19 hal yang wajib dilakukan.Oleh karena itu pada tanggal 1 Oktober disebut hari tergelap dalam sejarah pers Indonesia.Selama Orde Baru sebanyak 46 dari 163 surat kabar pernah dibredel,Kompas pernah tidak terbit dua kali selama beberapa hari pada tahun 1965 dan 1973.
       Ditengah kesempitan ruang geraknya,pers Indonesia termasuk Kompas masih tergerak dalam upaya menciptakan masyarakat Indonesia baru yang demokratis dan professional.Misi lain yang diemban Kompas adalah menjdi sUmber sejarah karena Koran dapat memberikan sumbangan melalui penyajian berbagai topikdan keakuratan pemberitaanya.Fungsi pers adalah menjadi mitra masyarakat dalam menghadapi berbagai pembaca, Jakob Oetama.

Pers Indonesia Selepas Era Orde Baru


       Tahun 1965 bukan termasuk tahun kebebasan pers.Sampai tumbangya Soeharto,negeri ini baru menikmati kebebasan kurang lebih 15 tahun,yaitu pertama,sejak saat penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia akhir 1949 sampai 1957 (ketika pemberangusan terhadap pers dimuli bertubi-tubi).Kedua,antara tahun 1966 sampai dengan 1974 saat penerbitan pers dihentikan pemerintah.
Sebuah Pandangan Pers Profesional
       M.Tabrani menulis tahun 1929,memberikan gambaran tentang keadaan pers Indonesia,menurutnya pers Indonesia masih rendah,tidak satupun surat kabar yang terbit ditunjang 3 unsur penting,yaitu: redaksi yang berwewenang.administrasi yang aik,dan tenaga percetakan yang terdidik.Kekurangan itu tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat luarnya.Rubrik-rubrik dalam surat kabar megenai seni dan sastra ,perdagangan,pertanian,untuk wanita,ilmu teknik tidak dijumpai disitu,masalah pers harus harus mendapat perhatian khusus,tanpa ada perbedaan aliran politik,keyakinan,maupun agama,baru sedikit diantara para dokter,seniman,ahli pertanian,kehewanan,para pendidik yang berhubungan dengan pers, melainkan masih terbatas pada tokoh pemimpin pergerakan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Marwati DJ. Poesponegoro.(1984).Sejarah Nasional Indonesia IV.Jakarta:Balai Pustaka.
Marwati Djoened Poesponegoro.(1993).Sejarah Nasional Indonesia V.Jakarta:Balai Pustaka.
Marwati Djoened Poesponegoro.(1993).Sejarah Nasional Indonesia VI.Jakarta:Balai Pustaka
Abdul Razaq Ahmad dan Andi Suwirta.(2007).Sejarah dan Pendidikan Sejarah:Perspektif     
       Malaysia dan Indonesia.Bandung:Historia Utama Press.
Jakob Oetama.(1987).Perspektif  Pers Indonesia,Jakarta:LP3ES.
Taufik I.(1977).Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia.____P.T. Triyince.
Pertjetakan Negara.(1971).Garis Besar Perkembangan Pers Indonesia.Jakarta:Pertjetakan         
       Negara.
Ana Nadhya Akbar.(1995).Panduan Buat Pers Indonesia.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
T.Atmadi.(1985).Bunga Rampai Sistem Pers Indones.Jakarta:____.
Mochtar Lubis.(1952).Pers dan Wartawan.Djakarta:Balai Pustaka.

Chaniago,J.R..(1986).Ditugaskan Sejarah:Perjuangan Merdeka.Jakarta:Pustaka Merdeka.

ZAMAN REVOLUSI 1945-1950


 Revolusi Indonesia


Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan bukan hanya merupakan suatu kisah sentral dalam sejarah Indonesia melainkan merupakan suatu unsure yang kuat di dalam persepsi bangsa Indonesia itu sendiri.
Di awal revolusi, tidak satupun penbagian dasar di antara bangsa Indonesia tersebut telah terpecah kecuali sepanjang ada kesepakatan tentang kemerdekaan sebagai tujuan pertama. Baik pihak Belanda maupun Indonesia  menganggap Revolusi Indonesia sebagai suatu zaman yang merupakan kelanjutan dari masa lampau. Bagi pihak Belanda, tujuannya adalah mengjancurkan sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orng yang bekerja sama dengan Jepang. Sedangkan bagi para pemimpin revolusi Indonesia, tujuannya untuk melangkapi dan menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang telah dimulai 4 dasawarsa sebelumnya.
Sebenarnya inilah saat ketiga kalinya pihak Belanda bermaksud menaklukan Indonesia. Pertama, pada abad XVII dan XVIII dikalahkan mereka oleh pihak Inggris, kedua pada abad XIX dan awal XX dikalahkannya ,mereka oleh Pihak Jepang, dan yang ketiga kali ini mereka menghadapi masalah menaklukkan seluruh nusantara sekaligus.
Persatuan nasional yang penuh masih tetap jauh dari tempatb tercapai. Sebagian besar karena alasan inilah pihak belanda hampir berhasil namun usahanya gagal karena adanya perlawanan dari masyarakat Indonesia dan dukungan dari negara yang bersimpatik yaitu dari Amerika Serikat.
Sukarno diangkat sebagai Presiden Republik ini (1945-1967) dan Hatta sebagai wakil Presiden (1945-1956), karena politisa menganggap Jakarta merasa yakin bahwa hanya merekalah yang dapat berurusan dengan pihak Jepang.
Salah satu masalah pokok jaman revolusi dan sesudahnya ialah menciptakan dari suatu struktur militer yang rasional yang patuh terhadap pemerintah pusat. Sedemikian jauh Revolusi belum menghadapi permasalah serius, akan tetapi hal ini akan segera terjadi. Dengan mulai tibanya sekutu guna menerima penyerahan Jepang, maka muncullah tantangan-tantangan serius yang pertama terhadap Revolusi.
Diwilayah yang dikuasai angkatan laut Jepang, Revolusi terhenti pada awalnya ketika pihak sekutu bergerak masuk. Bersama sama dengan mereka itu datangnya pasukan-pasukan dan pejabat Belanda. Pasukan Inggris yang sebagian besar terdiri atas orang-orang India, sementara bergerak memasuki Jawa dan Sumatera.
Dengan mulai munculnya pasukan sekutu, maka semakin meningkatkan ketegangan-ketegangan di Jawa dan Sumatera.
Pada bulan Oktober 1945 pihak Jepang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan di kota-kota besar dan kecil di Jawa yang baru saja diambil alih oleh bangsa Indonesia atas persetujuannya, sehingga menyebabkan dimulainya tahapan-tahapan peperangan betul yang pertama.
Pada 2 November Sukarno memerintahkan gencatan senjata atas permintaan pihak Inggris, tetapi pada akhir bulan November pertempuran telah berkobar lagi dan pihak Inggris mundur ke daerah pesisir. Tindakan Sukarno inilah yang nantinya membuat para pemuda memberontak dan tidak mempercayainya lagi.
Surabaya menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama Revolusi, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. Pangkima senior Jepang disana, Laksamana Madya Shibata memihak Republik dan membuka pintu gudang persenjataan kepada orang0orang Indonesia. Ketika seorng kapten Laut Belanda tiba, Shibata menyerah pada 3 Oktober  dan menyuruh pasukannya untuk menyerahkan senjata mereka kepada rakyat Indonesia kepada pihak sekutu (yang tentu saja tidak akan mereka lakukan).
Ketegangan social diwilayah pesisir utara Jawa mencapai puncaknya pada bulan Desember 1945. Ditiga kabupaten yaitu, Brebes, Pemalang, dan Tegal, yang ketiganya merupakan bagian dari keresidenan. Yang disebut Gabungan Badan PerjuanganTiga Daerah atau GBP-3D. Pekalongan terjadin apa yang dikenal sebagai peristiwa Tiga Daerah.
DiBanten, PKI telah memulai pemberontakan yang gagal pada tahun 1926.  . Beberapa masyarakat daerah Pekalongan dikumpulkan untuk dipekerjakan di Banten Selatan. Setelah penyerahan itu orang-orang ini mulai kembali kerumah masing-masing dengan kondisi yang menyedihkan  . Kedudukan Residen besar ,S.H menjadi bahaya dan ia dipindahkan menjadi residen Semarang pada 12 Oktober.
Kepemimpinan di Pemalang dijalankan oleh R. Soepangat seorang aktifis lama Gerindo yang mengepalai GBP-3D cabang Pemalang. . Orang-orang militer Pekalongan yang sudah sakit hati oleh keputusan GBP-3D yang tidak mengakui TKR sebagai pasukan keamanan di daerah it. Pada tanggal 21 Desember prajurit TKR menyerang rezim Revolusi Sosial dan berhasil merenut kembali Pekalongan.
Disurakarta logika yang berlaku diperkuat oleh hubungan antara gerakan Revolusi dan golongan oposisi. Setelah bulan Mei 1946 politik nasional tak mungkin melepaskan diri di Surakarta dan krisis yang diakibatkannya memuncak dalam kejadian serba aneh yang telah tecatat dalam sejarah sebagai Peristiwa Tiga Juli.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Ben. Revoloesi Pemoeda. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,1988
Anderson, Ben. Java in a time of Revolution. Ithaca:Cornell University Press,1972
Anderson, David Charles. The Military aspects of The Madiun affair. Ithaca: cornell University Press,1976
Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press,1952
Legge, John D. Sukarno:a Political biography. Sydney: Allen and Unwin,1985
Lucas, Anton. Social Revolution in Pemalang,Central Java.
Nasution,A.H. Sekitar Perang kemerdekaan Indonesia. Bandung:Penerbit Angkasa,1979
Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Sejarah Perjuangan. Seminar Sejarah Nasional Subtema Sejarah Perjuangan. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1990
Reid,Anthony. The blood of the people Revolution ang the end of traditional rule in northern Sumatra. Kuala Lumpur:Oxford University Press,1979
Selosoemarjan. Social ghanges in Jogjakarta. Ithaca:Cornell University Press, 1962.



PEMUDA DAN SUMPAHNYA

             Tidak banyak dari kita yang tahu bahwa bangsa Indonesia lahir pada tahun 1928. Pada umumnya warga negara Indonesia mengira bahwa tanggal 17 Agustus 1945 adalah tanggal dimana bangsa Indonesia ini lahir. Ini dikarenakan bahwa pengetahuan masyarakat akan nilai-nilai sejarah sangat minim, bahkan ada juga yang tidak mengerti sama sekali. Sangat disayangkan sebenarnya, tapi inilah keadaan masyarakat Indonesia saat ini.            Dahulu, para pahlawan berkorban waktu, harta-benda, bahkan nyawa demi memerdekakan bangsa ini. Satu hati satu tujuan mereka bergerak berperang. Tidak sedikit yang meninggal dalam pertempuran. Mereka hidup dalam keadaan yang sangat tercekam. Untuk makan sehari-hari saja sangat susah. Tapi dengan kegigihan mereka, saat ini bangsa Indonesia dapat MERDEKA.
            Kemerdekaan Indonesia tentu tidak dapat dipisahkan dengan Sumpah Pemuda.  Sumpah Pemuda tidak keluar dari renungan ilmiah, yang dijiwai oleh nasionalisme saja. Juga tidak hanya alat perjuangan untuk melawan kolonialisme. peristiwa itu bermula dengan mempertentangkan segala anggapan dan prasangka tradisional1. Kita lihat terlebih dahulu keadaan sebelum Sumpah pemuda. Selama dua dasawarsa pertama, para pemimpin pergerakan kebangsaan kita berjuang mati-matian untuk mencapai persatuan, tapi yang mereka dapat hanyalah perpecahan habis-habisan. Para pemimpin itu tidak hanya gagal menggalang persatuan antar organisasi pergerakan kebangsaan, tapi terlebih telah menimbulkan perpecahan di dalam organisasi masing-masing. Lebih parah lagi, perpecahan itu lambat-laun tidak lagi dianggap sebagai kegagalan, tapi malah sebagai alasan yang lebih realistis untuk membentuk organisasi baru menurut garis suku, agama, usia, dan bidang kehidupan. Dalam keadaan kalut itulah beberapa pelajar tampil memperjuangkan persatuan pemuda. Mereka bertekad untuk membentuk suatu organisasi tunggal bagi pemuda, yakni Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Dengan dukungan mereka, terselenggaralah kongres pemuda yang pertama di Batavia, 30 April sampai 2 Mei 1926.
Tujuan kongres adalah untuk menjadikan semua organisasi pemuda sebagai pelopor bagi tercapainya cita-cita besar mengenai Persatuan Indonesia. Semua organisasi pemuda yang  namanya dimulai dengan “Jong” ikut serta, tapi kongres gagal mencapai tujuannya. Di
bawah pengaruh Jong Java, hampir semua organisasi pemuda itu tidak mau bergabung dalam suatu organisasi tunggal tapi hanya mau kalau dalam suatu perserikatan.Rapat dapat diselenggarakan kembali bersama organisasi-organisasi pelajar yang berhaluan perserikatan pada awal 1927. Tapi ternyata upaya membentuk organisasi tunggal gagal, dua bulan kemudian rapat diselenggarakan kembali dan berhasil merumuskan cita-cita bersama yaitu menuju Indonesia yang merdeka, dan persatuan pemuda sebagai upaya mencapainya.Lalu tibalah saatnya rapat berikutnya. Suasananya jauh lebih meriah dan bersemangat daripada rapat-rapat sebelumnya. Di sudut-sudut Batavia ditempeli plakat yang mengajak semua pemuda dan pemudi agar hadir. Ajakan dari mulut ke mulut juga ramai sekali. Sehingga pemuda yang hadir diperkirakan mencapai seribu orang, belum lagi tokoh-tokoh terkemuka partai politik, bahkan pejabat tinggi pemerintah jajahan. Polisi rahasia pun bukan main sibuknya. Tidak jelas bagaimana caranya, tahu-tahu rapat tersebut disebut sebagai Kongres Pemuda yang kedua yaitu pada 27-28 Oktober 1928.Tentu banyak penjelasan yang dapat diberikan mengapa bisa demikian, tapi ada satu hal yang tidak mungkin diabaikan, yaitu kemenangan Mohammad Hatta dan kawan-kawan dalam pengadilan di Den Haag, 22 Maret 1928. Setelah ditahan hampir selama enam bulan atas tuduhan melawan pemerintah dengan cara menimbulkan keonaran, Hatta dan kawan-kawan dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Kemenangan itu disambut hangat di Indonesia selama berbulan-bulan.Seolah-olah merupakan simpul semangat yang meluap itu, timbul dua acara yang samasekali tidak dipersiapkan, yaitu mendengar lagu ciptaan seorang pemuda, Wage Rudolf Supratman, dan pengumuman keputusan kongres. Acara dengar lagu itu langsung bikin heboh karena polisi rahasia melarang Supratman membawakan lirik berjudul “Indonesia Raja” yang mengandung kata “merdeka”. Ketua kongres mengambil jalan tengah: Supratman hanya memperdengarkan melodi dengan gesekan biola diiringi piano. Walau pun demikian, acara itu memukau seluruh hadirin dengan rasa khidmat dan khusuk.Yang lebih mengejutkan lagi adalah acara pembacaan keputusan kongres. Ketua kongres sempat bingung karena tidak ada persiapan. Mendadak Muhammad Yamin menyodorkan secarik kertas berisi rencana keputusan kepada ketua, Sugondo Joyopuspito. Membaca naskah itu, ketua sangat tertegun karena tiga hal. Pertama, di sana tercantum semangat persatuan, padahal datangnya dari Muhammad Yamin yang terkenal menolak fusie. Kedua, naskah diubah dengan indah. Ketiga, dirumuskan dengan singkat dan jernih sehingga dianggap sangat cocok sebagai keputusan penting. Maka dibacakanlah hasil kongres yang terdiri dari tiga butir, masing-masing didahului dengan kata-kata yang sama, yaitu :