Cari Blog Ini

Rabu, 12 Juli 2017

Peran Pers dalam Pergerakan Nasional

Peran Pers dalam Pergerakan Nasional

        Berdirinya organisasi kebangsaan menandai kebangkitan pers Indonesia.Munculnya kesadaran akan pers dapat memberikan informasi tentang berbagai hal juga memengaruhi dan membentuk pendapat(opini) publik.Pada masa pergerakan nasional hampir semua partai mempunyai surat kabar dan dengan surat kabar itulah suatu organisasi kebangsaan memasyarakatkan,mengkampanyekan,dan mempropagandakan program-program organisasi serta kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial.
1.         Pers Budi Utomo
Pers sebagai penyambung organisasi,ia juga menerbitkan surat kabar Darmo Kondo
2.         Pers Serekat Islam
Menerbitkan Oetoesan Hindia Sejak 1913
3.         Pers Indische Partij
Diterbitkan majalah dua mingguan Het Tijsch rift dan surat kabar De Expres yang memuat pandangan politik Douwes Dekker
4.         Pers Perhimpunan Indonesia
Awalnya bernama Indische Vereeniging(IV) menerbitkan majalah Hindia Poetra kemudian diganti Indonesia Merdeka pada tahun 1923.
        Perkembangan awal Indonesia adalah pers Daerah dan bahasa Melayu,Tahun 1909,E.F.E. Douwes Dekker menilai kedudukan pers bahasa Melayu lebih penting dari pers Belanda.Adapun cir-cirii pers Melayu adalah :
1.Berisi berita atau karangan yang jelas ,hanya golongan keturunan Cina
2.Dibiayai dan  di kerjakan oleh orng Cina di mana lingkungan pembaca adalah penduduk Bumi Putra
3.Surat kabar berbahasa Melayu dibaca oleh kedua golongan itu.Contoh:Bintang Soerabaja(1861)isinya menentang pemerintah dan berpengaruh di kalangan orang Cina dari partai modern di Jawa Timur.    
       Pada masa demokrasi terpimpin kehidupan pers nasional didominasi oleh pers komunis.Harian Rakyat misalnya,ia mempropagandakan ideology komunis dan menyingkirkan ideology lain sehingga fungsi pers di telan arus.

       Pers Orde Baru


       Orde Baru merupakan titik balik,pemerintah bertekad melaksanakan ideologi Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen,maka lahirlah UU Pokok Pers yang mengatur kedudukan pers Indonesia sebagai suatu kekuatan masyarakat,penyalur,pembentuk pendapat umum,pada Desember 1966. Titik pokok pers nasional adalah ketetapan sidang umum MPRS IV Tahun 1966 ,disebutkan ‘’kebebasan pers Indonesia adalah kebebasan untuk mengatakan serta menegakkan kebenaran dan keadilan,dan bukanlah kebebasan dalam pengertian liberalisme     .Pers berhubungan dengan keharusan pertanggungjawaban,UU No.11 Tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers yang disempurnakan UU No.4 Tahun 1967 .Fungsi Pers Nasional adalah alat revolusi dan merupakan mass media yang bersifat aktif,dinamis  kreatif,edukatif,dan mempunyai fungsi kemasyarakatan,pendorong dan pemupuk daya pikiran kritis dan progresif meliputi segala perwujudan kehidupan masyarakat Indonesia,karena itu
mempunyai hak kontrol,kritik,dan koreksi serta konstruktif.Dua buah komponen system komunikasi kita yang amat vital adalah radio dan televise.Pada masa ini kedua komponen tersebut berkembang dengan pesatnya.Namun,beritanya tunduk pada disiplin jurnalistik prs dan jurnalistik elektronik khususnya televisi.  
       Sebagai media yang memperjuangkan Pers Pancasila,Merdeka mengecam iklim ekonomi liberal yang mulai memperlihatkan wujudnya agar pemerintah melihat kembali system perekonomian Negara yang hendaknya benar-benar berpijak pada pasal 33 UUD 1945.2
       Berkali-kali Merdeka memberitahukan pada pembacanya akan fungsi pers baik melalui beberapa pejabat Negara maupun lewat tajuk,karikatur pojoknya.Sudah ada sindikatisme dalam urusan pers dengan gejala menjadikan pers sebagai alat untuk mengkatrol ambisi perseorangan.Usaha Merdeka untuk menjadikan dirinya sevbagai Pers Pancasila masih dalam perjalanan.Kehidupan pers sangat mencekam dan dipenuhi rasa ketakutan.Pejabat Presiden/Panglima Tertinggi Djuanda selaku Penguasa Perang Tertinggi (peperti)mengeluarkan peraturan peperti no.10 Tahun 1960 yang melarang penerbitan surat kabar atau majalah tanpa izin terlebih dahuludari penguasa keadaan bahaya.Dalam formulir permohonan izin harus menandatangani pernyataan tentang 19 hal yang wajib dilakukan.Oleh karena itu pada tanggal 1 Oktober disebut hari tergelap dalam sejarah pers Indonesia.Selama Orde Baru sebanyak 46 dari 163 surat kabar pernah dibredel,Kompas pernah tidak terbit dua kali selama beberapa hari pada tahun 1965 dan 1973.
       Ditengah kesempitan ruang geraknya,pers Indonesia termasuk Kompas masih tergerak dalam upaya menciptakan masyarakat Indonesia baru yang demokratis dan professional.Misi lain yang diemban Kompas adalah menjdi sUmber sejarah karena Koran dapat memberikan sumbangan melalui penyajian berbagai topikdan keakuratan pemberitaanya.Fungsi pers adalah menjadi mitra masyarakat dalam menghadapi berbagai pembaca, Jakob Oetama.

Pers Indonesia Selepas Era Orde Baru


       Tahun 1965 bukan termasuk tahun kebebasan pers.Sampai tumbangya Soeharto,negeri ini baru menikmati kebebasan kurang lebih 15 tahun,yaitu pertama,sejak saat penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia akhir 1949 sampai 1957 (ketika pemberangusan terhadap pers dimuli bertubi-tubi).Kedua,antara tahun 1966 sampai dengan 1974 saat penerbitan pers dihentikan pemerintah.
Sebuah Pandangan Pers Profesional
       M.Tabrani menulis tahun 1929,memberikan gambaran tentang keadaan pers Indonesia,menurutnya pers Indonesia masih rendah,tidak satupun surat kabar yang terbit ditunjang 3 unsur penting,yaitu: redaksi yang berwewenang.administrasi yang aik,dan tenaga percetakan yang terdidik.Kekurangan itu tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat luarnya.Rubrik-rubrik dalam surat kabar megenai seni dan sastra ,perdagangan,pertanian,untuk wanita,ilmu teknik tidak dijumpai disitu,masalah pers harus harus mendapat perhatian khusus,tanpa ada perbedaan aliran politik,keyakinan,maupun agama,baru sedikit diantara para dokter,seniman,ahli pertanian,kehewanan,para pendidik yang berhubungan dengan pers, melainkan masih terbatas pada tokoh pemimpin pergerakan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Marwati DJ. Poesponegoro.(1984).Sejarah Nasional Indonesia IV.Jakarta:Balai Pustaka.
Marwati Djoened Poesponegoro.(1993).Sejarah Nasional Indonesia V.Jakarta:Balai Pustaka.
Marwati Djoened Poesponegoro.(1993).Sejarah Nasional Indonesia VI.Jakarta:Balai Pustaka
Abdul Razaq Ahmad dan Andi Suwirta.(2007).Sejarah dan Pendidikan Sejarah:Perspektif     
       Malaysia dan Indonesia.Bandung:Historia Utama Press.
Jakob Oetama.(1987).Perspektif  Pers Indonesia,Jakarta:LP3ES.
Taufik I.(1977).Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia.____P.T. Triyince.
Pertjetakan Negara.(1971).Garis Besar Perkembangan Pers Indonesia.Jakarta:Pertjetakan         
       Negara.
Ana Nadhya Akbar.(1995).Panduan Buat Pers Indonesia.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
T.Atmadi.(1985).Bunga Rampai Sistem Pers Indones.Jakarta:____.
Mochtar Lubis.(1952).Pers dan Wartawan.Djakarta:Balai Pustaka.

Chaniago,J.R..(1986).Ditugaskan Sejarah:Perjuangan Merdeka.Jakarta:Pustaka Merdeka.

ZAMAN REVOLUSI 1945-1950


 Revolusi Indonesia


Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan bukan hanya merupakan suatu kisah sentral dalam sejarah Indonesia melainkan merupakan suatu unsure yang kuat di dalam persepsi bangsa Indonesia itu sendiri.
Di awal revolusi, tidak satupun penbagian dasar di antara bangsa Indonesia tersebut telah terpecah kecuali sepanjang ada kesepakatan tentang kemerdekaan sebagai tujuan pertama. Baik pihak Belanda maupun Indonesia  menganggap Revolusi Indonesia sebagai suatu zaman yang merupakan kelanjutan dari masa lampau. Bagi pihak Belanda, tujuannya adalah mengjancurkan sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orng yang bekerja sama dengan Jepang. Sedangkan bagi para pemimpin revolusi Indonesia, tujuannya untuk melangkapi dan menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang telah dimulai 4 dasawarsa sebelumnya.
Sebenarnya inilah saat ketiga kalinya pihak Belanda bermaksud menaklukan Indonesia. Pertama, pada abad XVII dan XVIII dikalahkan mereka oleh pihak Inggris, kedua pada abad XIX dan awal XX dikalahkannya ,mereka oleh Pihak Jepang, dan yang ketiga kali ini mereka menghadapi masalah menaklukkan seluruh nusantara sekaligus.
Persatuan nasional yang penuh masih tetap jauh dari tempatb tercapai. Sebagian besar karena alasan inilah pihak belanda hampir berhasil namun usahanya gagal karena adanya perlawanan dari masyarakat Indonesia dan dukungan dari negara yang bersimpatik yaitu dari Amerika Serikat.
Sukarno diangkat sebagai Presiden Republik ini (1945-1967) dan Hatta sebagai wakil Presiden (1945-1956), karena politisa menganggap Jakarta merasa yakin bahwa hanya merekalah yang dapat berurusan dengan pihak Jepang.
Salah satu masalah pokok jaman revolusi dan sesudahnya ialah menciptakan dari suatu struktur militer yang rasional yang patuh terhadap pemerintah pusat. Sedemikian jauh Revolusi belum menghadapi permasalah serius, akan tetapi hal ini akan segera terjadi. Dengan mulai tibanya sekutu guna menerima penyerahan Jepang, maka muncullah tantangan-tantangan serius yang pertama terhadap Revolusi.
Diwilayah yang dikuasai angkatan laut Jepang, Revolusi terhenti pada awalnya ketika pihak sekutu bergerak masuk. Bersama sama dengan mereka itu datangnya pasukan-pasukan dan pejabat Belanda. Pasukan Inggris yang sebagian besar terdiri atas orang-orang India, sementara bergerak memasuki Jawa dan Sumatera.
Dengan mulai munculnya pasukan sekutu, maka semakin meningkatkan ketegangan-ketegangan di Jawa dan Sumatera.
Pada bulan Oktober 1945 pihak Jepang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan di kota-kota besar dan kecil di Jawa yang baru saja diambil alih oleh bangsa Indonesia atas persetujuannya, sehingga menyebabkan dimulainya tahapan-tahapan peperangan betul yang pertama.
Pada 2 November Sukarno memerintahkan gencatan senjata atas permintaan pihak Inggris, tetapi pada akhir bulan November pertempuran telah berkobar lagi dan pihak Inggris mundur ke daerah pesisir. Tindakan Sukarno inilah yang nantinya membuat para pemuda memberontak dan tidak mempercayainya lagi.
Surabaya menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama Revolusi, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. Pangkima senior Jepang disana, Laksamana Madya Shibata memihak Republik dan membuka pintu gudang persenjataan kepada orang0orang Indonesia. Ketika seorng kapten Laut Belanda tiba, Shibata menyerah pada 3 Oktober  dan menyuruh pasukannya untuk menyerahkan senjata mereka kepada rakyat Indonesia kepada pihak sekutu (yang tentu saja tidak akan mereka lakukan).
Ketegangan social diwilayah pesisir utara Jawa mencapai puncaknya pada bulan Desember 1945. Ditiga kabupaten yaitu, Brebes, Pemalang, dan Tegal, yang ketiganya merupakan bagian dari keresidenan. Yang disebut Gabungan Badan PerjuanganTiga Daerah atau GBP-3D. Pekalongan terjadin apa yang dikenal sebagai peristiwa Tiga Daerah.
DiBanten, PKI telah memulai pemberontakan yang gagal pada tahun 1926.  . Beberapa masyarakat daerah Pekalongan dikumpulkan untuk dipekerjakan di Banten Selatan. Setelah penyerahan itu orang-orang ini mulai kembali kerumah masing-masing dengan kondisi yang menyedihkan  . Kedudukan Residen besar ,S.H menjadi bahaya dan ia dipindahkan menjadi residen Semarang pada 12 Oktober.
Kepemimpinan di Pemalang dijalankan oleh R. Soepangat seorang aktifis lama Gerindo yang mengepalai GBP-3D cabang Pemalang. . Orang-orang militer Pekalongan yang sudah sakit hati oleh keputusan GBP-3D yang tidak mengakui TKR sebagai pasukan keamanan di daerah it. Pada tanggal 21 Desember prajurit TKR menyerang rezim Revolusi Sosial dan berhasil merenut kembali Pekalongan.
Disurakarta logika yang berlaku diperkuat oleh hubungan antara gerakan Revolusi dan golongan oposisi. Setelah bulan Mei 1946 politik nasional tak mungkin melepaskan diri di Surakarta dan krisis yang diakibatkannya memuncak dalam kejadian serba aneh yang telah tecatat dalam sejarah sebagai Peristiwa Tiga Juli.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Ben. Revoloesi Pemoeda. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,1988
Anderson, Ben. Java in a time of Revolution. Ithaca:Cornell University Press,1972
Anderson, David Charles. The Military aspects of The Madiun affair. Ithaca: cornell University Press,1976
Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press,1952
Legge, John D. Sukarno:a Political biography. Sydney: Allen and Unwin,1985
Lucas, Anton. Social Revolution in Pemalang,Central Java.
Nasution,A.H. Sekitar Perang kemerdekaan Indonesia. Bandung:Penerbit Angkasa,1979
Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Sejarah Perjuangan. Seminar Sejarah Nasional Subtema Sejarah Perjuangan. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1990
Reid,Anthony. The blood of the people Revolution ang the end of traditional rule in northern Sumatra. Kuala Lumpur:Oxford University Press,1979
Selosoemarjan. Social ghanges in Jogjakarta. Ithaca:Cornell University Press, 1962.



PEMUDA DAN SUMPAHNYA

             Tidak banyak dari kita yang tahu bahwa bangsa Indonesia lahir pada tahun 1928. Pada umumnya warga negara Indonesia mengira bahwa tanggal 17 Agustus 1945 adalah tanggal dimana bangsa Indonesia ini lahir. Ini dikarenakan bahwa pengetahuan masyarakat akan nilai-nilai sejarah sangat minim, bahkan ada juga yang tidak mengerti sama sekali. Sangat disayangkan sebenarnya, tapi inilah keadaan masyarakat Indonesia saat ini.            Dahulu, para pahlawan berkorban waktu, harta-benda, bahkan nyawa demi memerdekakan bangsa ini. Satu hati satu tujuan mereka bergerak berperang. Tidak sedikit yang meninggal dalam pertempuran. Mereka hidup dalam keadaan yang sangat tercekam. Untuk makan sehari-hari saja sangat susah. Tapi dengan kegigihan mereka, saat ini bangsa Indonesia dapat MERDEKA.
            Kemerdekaan Indonesia tentu tidak dapat dipisahkan dengan Sumpah Pemuda.  Sumpah Pemuda tidak keluar dari renungan ilmiah, yang dijiwai oleh nasionalisme saja. Juga tidak hanya alat perjuangan untuk melawan kolonialisme. peristiwa itu bermula dengan mempertentangkan segala anggapan dan prasangka tradisional1. Kita lihat terlebih dahulu keadaan sebelum Sumpah pemuda. Selama dua dasawarsa pertama, para pemimpin pergerakan kebangsaan kita berjuang mati-matian untuk mencapai persatuan, tapi yang mereka dapat hanyalah perpecahan habis-habisan. Para pemimpin itu tidak hanya gagal menggalang persatuan antar organisasi pergerakan kebangsaan, tapi terlebih telah menimbulkan perpecahan di dalam organisasi masing-masing. Lebih parah lagi, perpecahan itu lambat-laun tidak lagi dianggap sebagai kegagalan, tapi malah sebagai alasan yang lebih realistis untuk membentuk organisasi baru menurut garis suku, agama, usia, dan bidang kehidupan. Dalam keadaan kalut itulah beberapa pelajar tampil memperjuangkan persatuan pemuda. Mereka bertekad untuk membentuk suatu organisasi tunggal bagi pemuda, yakni Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Dengan dukungan mereka, terselenggaralah kongres pemuda yang pertama di Batavia, 30 April sampai 2 Mei 1926.
Tujuan kongres adalah untuk menjadikan semua organisasi pemuda sebagai pelopor bagi tercapainya cita-cita besar mengenai Persatuan Indonesia. Semua organisasi pemuda yang  namanya dimulai dengan “Jong” ikut serta, tapi kongres gagal mencapai tujuannya. Di
bawah pengaruh Jong Java, hampir semua organisasi pemuda itu tidak mau bergabung dalam suatu organisasi tunggal tapi hanya mau kalau dalam suatu perserikatan.Rapat dapat diselenggarakan kembali bersama organisasi-organisasi pelajar yang berhaluan perserikatan pada awal 1927. Tapi ternyata upaya membentuk organisasi tunggal gagal, dua bulan kemudian rapat diselenggarakan kembali dan berhasil merumuskan cita-cita bersama yaitu menuju Indonesia yang merdeka, dan persatuan pemuda sebagai upaya mencapainya.Lalu tibalah saatnya rapat berikutnya. Suasananya jauh lebih meriah dan bersemangat daripada rapat-rapat sebelumnya. Di sudut-sudut Batavia ditempeli plakat yang mengajak semua pemuda dan pemudi agar hadir. Ajakan dari mulut ke mulut juga ramai sekali. Sehingga pemuda yang hadir diperkirakan mencapai seribu orang, belum lagi tokoh-tokoh terkemuka partai politik, bahkan pejabat tinggi pemerintah jajahan. Polisi rahasia pun bukan main sibuknya. Tidak jelas bagaimana caranya, tahu-tahu rapat tersebut disebut sebagai Kongres Pemuda yang kedua yaitu pada 27-28 Oktober 1928.Tentu banyak penjelasan yang dapat diberikan mengapa bisa demikian, tapi ada satu hal yang tidak mungkin diabaikan, yaitu kemenangan Mohammad Hatta dan kawan-kawan dalam pengadilan di Den Haag, 22 Maret 1928. Setelah ditahan hampir selama enam bulan atas tuduhan melawan pemerintah dengan cara menimbulkan keonaran, Hatta dan kawan-kawan dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Kemenangan itu disambut hangat di Indonesia selama berbulan-bulan.Seolah-olah merupakan simpul semangat yang meluap itu, timbul dua acara yang samasekali tidak dipersiapkan, yaitu mendengar lagu ciptaan seorang pemuda, Wage Rudolf Supratman, dan pengumuman keputusan kongres. Acara dengar lagu itu langsung bikin heboh karena polisi rahasia melarang Supratman membawakan lirik berjudul “Indonesia Raja” yang mengandung kata “merdeka”. Ketua kongres mengambil jalan tengah: Supratman hanya memperdengarkan melodi dengan gesekan biola diiringi piano. Walau pun demikian, acara itu memukau seluruh hadirin dengan rasa khidmat dan khusuk.Yang lebih mengejutkan lagi adalah acara pembacaan keputusan kongres. Ketua kongres sempat bingung karena tidak ada persiapan. Mendadak Muhammad Yamin menyodorkan secarik kertas berisi rencana keputusan kepada ketua, Sugondo Joyopuspito. Membaca naskah itu, ketua sangat tertegun karena tiga hal. Pertama, di sana tercantum semangat persatuan, padahal datangnya dari Muhammad Yamin yang terkenal menolak fusie. Kedua, naskah diubah dengan indah. Ketiga, dirumuskan dengan singkat dan jernih sehingga dianggap sangat cocok sebagai keputusan penting. Maka dibacakanlah hasil kongres yang terdiri dari tiga butir, masing-masing didahului dengan kata-kata yang sama, yaitu :